hackerWashington DC, LiputanIslam.com — Kejaksaan Agung AS mendakwa dua warga Vietnam dan seorang warga Kanada dalam kasus kejahatan data internet, yang diyakini sebagai terbesar dalam sejarah negara itu.

Warga Vietnam itu bernama Giang Hoang Vu yang telah ditangkap, sementara seorang lagi bernama Viet Nguyen Quoc masih buron. Keduanya sempat tinggal di Belanda sebelum Giang Hoang Vu diekstradisi bulan Maret 2014.

Seperti dikutip dari BBC dan dilansir RMOL, mereka dituduh membobol hampir satu miliar alamat email dengan meretas delapan perusahaan penyedia layanan email antara tahun 2009 dan 2012.

Mereka menggunakan data-data itu untuk menyebarkan spam produk palsu ke puluhan juta orang dan mendapat keuntungan jutaan dolar AS dari aktivitas itu.

Dokumen pengadilan yang didapatkan tidak mengungkapkan perusahaan-perusahaan penyedia email yang berhasil diretas.

Pemerintah AS menyebut dua orang Vietnam itu menggunakan alamat email yang dicuri untuk mengarahkan mereka ke situs-situs yang menjual software Adobe Systems Inc palsu.

Adapun terdakwa warga Kanada, David-Manuel Santos Da Silva, didakwa dengan kasus konspirasi pencucian uang.
Detektif Diadili karena Gunakan Jasa ‘Hacker’
Sementara itu New York Times hari Jumat (6/3) melaporkan, seorang detektif swasta mengakui telah menggunakan jasa ‘hacker’ dalam sidang pengadilan di New York, hari Jumat.

Detektif dengan spesialis penyelidikan kecelakaan dan mal-praktik kedokteran itu didakwa melakukan kejahatan konspirasi.

Detektif swasta Eric Saldarriaga dari Queens, New York, disidik oleh biro penyidik federal FBI setelah dicurigai menggunakan jasa ‘hacker’ dalam menjalankan tugasnya. Ia kini harus menghadapi ancaman hukuman penjara hingga 6 bulan.(ca)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*