ashton carterWashington DC, LiputanIslam.com — Bakal Menteri Pertahanan AS Ashton Carter menyatakan tekadnya untuk mengirim senjata-senjata berat ke Ukraina untuk melawan separatis dukungan Rusia. Pernyataan tersebut disampaikan Ashton Carter di hadapan sidang panel Senat sebelum pelantikan dirinya sebagai menteri pertahanan untuk menggantikan Chuck Hagel, Rabu (4/2). Demikian seperti dilansir BBC News.

Selama ini AS hanya membantu Ukraina dalam bentuk peralatan militer yang tidak mematikan seperti peralatan komunikasi dan kacamata infra-merah. Namun Presiden Barack Obama mengatakan bahwa AS tengah mempertimbangkan untuk memberikan persenjataan mematikan kepada Ukraina atas tuduhan keterlibatan Rusia dalam konflik di Ukraina timur.

Selama ini Rusia selalu membantah tuduhan itu dan mengatakan bahwa warga Rusia yang berada di Ukraina adalah para relawan dan bukan pasukan reguler.

“Saya sangat cenderung dengan langkah itu, karena saya rasa kita harus mendukung Ukraina untuk mempertahankan diri mereka,” kata Carter ketika ditanya oleh senator John McCain tentang isyu tersebut.

“Kriteria dari senjata-senjata itu, saya tidak bisa mengatakannya sekarang,” tambahnya.

Terkait dengan hal itu Jubir Kepresidenan (Gedung Putih) Josh Earnest mengatakan bahwa Presiden Obama lah yang akan memutuskan hal itu, bukan Carter.

“Presiden tentu tertarik dengan hal itu, pandangan-pandangan dan pendapat tim keamanannya, termasuk siapa yang kita harapkan akan menjadi menteri pertahanan, presiden tentu mempertimbangkan dengan serius pandangan-pandangan mereka.”

Selama ini AS masih bersikap realistis dengan menahan diri tidak mengirimkan persenjataan lebih berat ke Ukraina seperti rudal-rudal anti-tank, karena khawatir situasinya akan semakin memburuk di Ukraina. Namun baru-baru ini sejumlah mantan pejabat senior AS mendesak AS untuk meningkatkan bantuan persenjataan ke Ukraina.

Hari Selasa (3/2) sejumlah senator bahkan mendesak Presiden Obama dan Nato untuk “dengan cepat meningkatkan bantuan militer ke Ukraina untuk mempertahankan kedaulatannya dari agresi Rusia yang semakin meningkat.”

Sementara itu pertempuran semakin sengit terjadi di Ukraina timur, sekaligus menjadikan kesepakatan gencatan senjata bulan September 2014 lalu sebagai kenangan belaka. Pada hari Rabu (4/3) tiga orang tewas dan belasan orang terluka setelah sebuah bom meledak di rumah sakit di kota Donetsk. Pertempuran juga terjadi di kota Deblatseve yang dikuasai pemerintah di timur-laut Donetsk.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL