awacs6Beijing, LiputanIslam.com — AS membela diri tentang kebijakannya melakukan penerbangan mata-mata di kawasan Asia Tenggara. Hal ini sebagai respon atas tuntutan Cina untuk menghentikan kegiatan mata-mata jika AS ingin memperbaiki hubungan dengan Cina.

Tuntutan Cina itu disampaikan menyusul terjadinya insiden 19 Agustus lalu dimana sebuah pesawat tempur Cina memprovokasi pesawat mata-mata AS di dekat wilayah sengketa antara Cina dengan Jepang.

“Kami memiliki hak untuk melakukan misi-misi legal di luar wilayah Cina dan ada langkah-langkah persuasif untuk melakukan hal itu,” kata Asisten Menlu AS urusan Asia Pasifik Daniel Russel, hari Jumat (12/9), sebagaimana dilaporkan BBC News, Sabtu (13/9).

Russel juga menyinggung program peningkatan kekuatan militer Cina serta ketidaktransparanan Cina dalam hal ini.

“Jujur saja, ketidaktransparanan modernisasi militer Cina adalah sumber dari kecurigaan negara-negara tetangga. Dan saya percaya bahwa semua negara, termasuk Cina akan mendapatkan manfaat dengan transparansi yang baik,” tambahnya.

Cina mengklaim Laut Cina Selatan adalah wilayahnya, namun beberapa negara tetangga seperti Filipina, Jepang, Vietnam, Taiwan, Malaysia, dan Brunei Darussalam mengklaim beberapa area di wilayah itu sebagai wilayah mereka.

Minggu lalu Menlu Cina Wang Yi mengatakan kepada Menlu Australia Julie Bishop di Sydney bahwa Cina tidak menginginkan negara di luar teritori tersebut campur tangan atas wilayah di Laut Cina. Ia merujuk pada AS meski tidak menyebutkannya secara langsung.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL