Afghan presidential candidates Ashraf Ghani Ahmadzai and Abdullah Abdullah smile next to U.S. Secretary of State John Kerry after a news conference in KabulKabul, LiputanIslam.com — Pemerintah baru Afghanistan dan AS akhirnya menandatangani perjanjian keamanan yang menjamin keberadaan pasukan AS di Afghanistan setelah berakhirnya mandat mereka tahun ini.

Sebagaimana laporan RIA Novosti, perjanjian tersebut ditandatangani di Istana Kepresidenan Afghanistan di Kabul, hari Selasa (30/9), tidak lama setelah dilantiknya presiden baru Ashraf Ghani menggantikan presiden lama yang selama ini menolak perjanjian keamanan tersebut, Hamid Karzai.

Setelah kegigihan Karzai menolak rancangan undang-undang yang dibuat AS untuk menjamin keberadaan pasukan AS di Afghanistan setelah tahun 2014, harapan AS untuk bisa tetap menempatkan pasukannya di Afghanistan muncul kembali setelah pilpres memunculkan 2 kandidat yang lebih pro-Amerika, Ashraf Ghani dan Abdullah Abdullah.

Berbicara pada acara pelantikan Ashraf Ghani di Kabul, Senin (29/9), Menlu AS John Kerry mengucapkan selamat kepada Ghani dan Abdullah Abdullah yang diangkat sebagai menteri senior setingkat perdana menteri. Kerry menyatakan keinginan AS meningkatkan kerjasama dengan “Afghanistan yang bersatu dan demokratis”.

Menurut Kerry pasukan koalisi asing pimpinan AS dibutuhkan untuk membantu Afghanistan “melancarkan operasi anti terorisme”.

Sekitar 41.000 pasukan AS dan NATO kini masih berada di Afghanistan untuk memerangi kelompok Taliban bersama aparat keamanan Afghanistan. Dengan perjanjian keamanan tersebut sebanyak 12.000 pasukan akan tetap tinggal di Afghanistan setelah berakhirnya masa tugas mereka akhir tahun ini.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL