israel embassy bombingBuenos Aires, LiputanIslam.com — Argentina membeberkan dokumen-dokumen yang berhubungan dengan pemboman di luar kedutaan besar Israel di Buenos Aires pada 1992 yang merenggut 29 nyawa dan melukai 200 orang. Demikian sebagaimana dilaporkan kantor berita Antara, Kamis petang (9/4).

Pemerintah telah diperintahkan oleh Mahkamah Agung untuk membeberkan dokumen-dokumen ini ke publik, lebih dari dua dekade setelah terjadi serangan yang masih saja tak terungkap.

Menurut dekrit yang disiarkan dalam koran Official Bulletin, pemerintah telah memerintahkan ‘deklasifikasi’ (pembeberan) semua dokumen dan fail intelijen yang berkaitan dengan serangan itu.

Para keluarga korban sejak lama menuntut fail-fail itu diungkap saja dan mahkamah telah meminta Presiden Argentina Cristina Kirchner untuk mendeklasifikasi beberapa item.

Kasus ini ditutup sejak tahun 1999 setelah tidak seorang pun yang terbukti melakukannya. Awalnya media-media barat gencar menuduh Iran dan Hizbollah sebagai pelaku serangan. Namun setelah tidak ada bukti nyata, tuduhan itu berhenti begitu saja. Sementara sejumlah media independen menyebutkan bahwa serangan itu dilakukan oleh dinas inteligen Israel sendiri, Mossad, sebagai operasi ‘bendera palsu’ untuk mendiskreditkan Iran.

Presiden Christina Kirchner telah menyerukan kasus ini dibuka kembali.

Bulan lalu, pemerintah Argentina juga telah mendesklasifikasi berkas-berkas dokumen mengenai pembomaman yang tak terpecahkan pada 1994 dan menimpa pusat kebudayaan Yahudi Buenos Aires yang menewaskan 85 orang dan melukai 300 orang.

Kasus ini dibuka kembali setelah 21 tahun tak terungkap, setelah jaksa federal yang memimpin penyelidikan kasus pemboman ini ditemukan tewas misterius pada bulan Februari lalu.

Seperti pemboman di kedubes Israel dua tahun sebelumnya, media-media barat juga gencar memberitakan keterlibatan Iran dalam serangan itu, namun kemudian juga tidak terbukti.

Dua serangan bom telah memporakporandakan penduduk Yahudi Argentina yang totalnya terbesar di
Amerika Latin dengan sekitar 300.000 orang, demikian AFP.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL