tentara kenyaNairobi, LiputanIslam.com — Aparat keamanan Kenya dipertanyakan kesigapannya terkait dengan kegagalan mereka mencegah terjadinya serangan teroris di Univertitas Garissa yang menewaskan 148 orang, hari Kamis lalu (2/4).

Media-media Kenya menyebutkan bahwa aparat inteligen Kenya sebenarnya telah mengetahui informasi awal tentang rencana serangan tersebut, namun tidak ada tindakan untuk mencegahnya. Saat terjadi serangan, hanya ada 2 penjaga di Universitas Garissa.

BBC News melaporkan, Sabtu (4/4), aparat keamanan telah menemukan 4 orang lagi yang selamat di kompleks universitas, dua di antaranya diduga adalah pelaku serangan dan kini telah diamankan. Seorang di antaranya adalah warga Tanzania yang tidak memiliki hubungan apapun dengan universitas.

Mendagri Kenya Joseph Nkaiserry mengatakan bahwa seluruh mayat korban serangan telah dievakuasi. Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa, namun tiga polisi dan dua tentara juga menjadi korban yang tewas dalam insiden itu.

Polisi Uganda dilaporkan juga mendapatkan informasi tentang rencana serangan serupa di negara itu.

Media setempat Daily Nation, seperti dikutip BBC News, melaporkan bahwa aparat keamanan Kenya telah mendapatkan sejumlah informasi tentang rencana serangan di sebuah perguruan tinggi dan telah mengingatkan sejumlah lembaga untuk berhati-hati.

Terkait dengan peringatan itu, Univeristas Nairobi pada tanggal 25 Maret mengeluarkan peringatan kepada para mahasiswanya untuk mewaspadai kemungkinan serangan teroris.

Sejumlah warga di Garissa, sebuah kota yang terletak 150 km dari perbatasan Somalia, juga mempertanyakan mengapa keamanan tidak ditingkatkan setelah munculnya peringatan itu.

“Ini terjadi karena keteledoran pemerintah dan hal ini tidak bisa diterima,” kata Mohamed Salat (47 tahun), seorang pengusaha keturunan Somalia yang tinggal di kota itu.

Seorang mahasiswa yang selamat dengan bersembunyi di balik semak-semak, mengatakan bahwa para mahasiswa telah meningkatkan kewaspadaannya sejak akhir tahun lalu, namun aparat keamanan hanya menempatkan 2 orang penjaganya di tempat itu. Diduga kuat para penyerang telah mengetahui lemahnya penjagaan di tempat itu.

Seorang saksi lain mengatakan kepada BBC bahwa dirinya mendengar para penyerang mendapatkan instruksi melalui ponsel dan berbahasa Swahili, bahasa resmi di Kenya, hingga menimbulkan kecurigaan bahwa para pelaku serangan adalah warga lokal.

Jam malam kini diberlakukan di Garissa dan tiga kota yang berdekatan dengannya.

Terkait dengan serangan ini Presiden Uhuru Kenyatta menginstruksikan polisi untuk menambah kekuatan personilnya dengan melatih 10.000 rekrutmen baru.

Kelompok Al-Shabab yang dituduh sebagai pelaku sernagan maut ini juga bertanggungjawab atas serangan Westgate Mall di Nairobi tahun 2013, dimana sebanyak 67 orang tewas.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL