imigrasi jisJakarta, LiputanIslam.com — Belasan pegawai Kantor Imigrasi Jakarta Selatan mendatangi Jakarta International School (JIS), Selasa (22/4). Kepala Kantor Imigrasi Jakarta Selatan Maryoto Sumadi mengatakan anak buahnya datang ke JIS untuk memeriksa kelengkapan dokumen terkait izin tinggal guru tenaga kerja asing di sekolah itu.

“Kami ingin mencocokkannya dengan data yang kami miliki mengenai izin tinggal para guru asing,” kata Maryoto kepada media, Selasa (22/4).

Rombongan pegawai Imigrasi tiba dengan tiga mobil di JIS pada pukul 10.00 WIB. Mobil terdepan langsung diserbu oleh awak media yang sudah berjaga-jaga sejak pagi. Mereka menanyakan maksud kedatangan rombongan tersebut, tetapi dijawab sekenanya lantaran mobil harus segera bergerak maju.

Sebelum memasuki JIS, mobil-mobil tersebut harus antre di depan gerbang utama untuk diperiksa. Gerbang selalu dalam keadaan tertutup dan dilengkapi rambu tanda berhenti ketika masih ada satu mobil yang diperiksa di gerbang. Bagian bawah mobil dan bagasi pun tak luput dari pemeriksaan.

Seusai diperiksa, rombongan memarkir mobil di lapangan terbuka dan langsung menuju pemeriksaan kedua. Di titik ini, tas dan barang bawaan tamu diperiksa dan diberi tanda. Kartu identitas juga ditukar dengan kartu kunjungan yang harus dikalungkan selama berada di area sekolah.

Rombongan lalu diterima oleh tiga orang perwakilan sekolah, salah satunya seorang laki-laki bernama Hasanuddin, seorang perempuan warga Indonesia, dan seorang perempuan ekspatriat. Lobi itu berdinding kaca, beratap tinggi, dan memiliki satu set sofa besar dan meja. Setelah menyampaikan maksud kedatangannya, rombongan diajak berkeliling oleh perempuan asing itu.

“Mari, silakan. Saya akan ajak Anda berkeliling untuk melihat sekolah kami yang indah,” kata dia.

Setelah berkeliling, dua jam kemudian staf administrasi sekolah merampungkan semua dokumen yang diminta oleh rombongan. Maryoto mengatakan upaya ‘jemput bola’ tersebut berkaitan dengan adanya kasus pelecehan seksual yang terjadi di taman kanak-kanak sekolah itu.

Menurutnya, keimigrasian juga ingin menjaga agar tak ada masalah kewarganegaraan yang dapat memperumit kasus yang sedang berlangsung. “Core business kami hanya sebatas status izin tinggal WNA yang tak terjadi penyalahgunaan izin tersebut,” kata Maryoto.(ca/tempo.co)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL