Seoul, LiputanIslam.com – Korea Selatan memiliki presiden baru yang memiliki kebijakan luar negeri “Sunshine Policy” untuk kerjasama lagi dengan Korea Utara. Demikian disampaikan Hyun Lee, anggota Komite Solidaritas untuk Demokrasi dan Perdamaian di Korea, kepada Brian Becker dari kantor berita Sputnik  pada Kamis (11/5).

Lee yang juga sebagai seorang penulis dan aktivis di New York mengatakan bahwa Presiden Korsel, Moon Jae-in, memenangkan lebih dari 40 persen suara, sedangkan saingannya Hong Jun-pyo dan Ahn Cheol-soo masing-masing mendapatkan sekitar 20 persen saja.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa demonstrasi yang terjadi baru-baru ini dan menggulingkan presiden sebelumnya, Park Geun-Hye, adalah karena dakwaan skandal korupsi besar.

Menurutnya, Moon akan melanjutkan kebijakan luar negeri dengan Korea Utara bernama Sunshine Policy setelah ditinggalkan selama satu dekade yang lalu. Sunshine policy adalah kebijakan para presiden pendahulu Korsel, Kim Dae-jung tahun 1998-2003 dan Roh Moo-hyun tahun 2003-2008.

“Pertanyaannya adalah apakah Amerika Serikat, pemerintahan Trump, akan mengizinkan Moon untuk beraliansi dengan Korea Utara,” ujar Lee. “Dan jika tidak mengizinkan, lalu apakah Moon akan berada di pihak AS?”

Menurut Lee, keterlibatan Moon dengan Korea Utara dapat mendorong pemerintah Trump mengubah kebijakannya sendiri ke arah yang damai, terutama mengingat bahwa Trump pernah mengucapkan bahwa dia bersedia berbicara dengan Kim Jong-un dengan syarat tertentu.

Saat itu Trump mengatakan bahwa dia akan merasa terhormat jika bisa berbicara dengan pemimpin Korea Utara. Ini mengindikasikan bahwa AS mungkin akan mempertimbangkan opsi dialog tersebut. Dan jika memang demikian, Presiden Moon akan memiliki harapan besar untuk melakukan pendekatan kepada Trump.

Lee menyarankan agar AS dan Korut bersepakat untuk menghentikan ujicoba nuklir dan latihan militernya, dan melakukan gencatan senjata untuk mengakhiri Perang Korea dan menandatangani perjanjian damai selamanya.

Namun ironisnya, warga Korsel sekarang lebih menganggap bahwa Trump-lah yang menjadi ancaman besar daripada Korea Utara. Lee menggarisbawahi bahwa militer AS-lah yang berpotensi mengobarkan konflik serius di Semenanjung Korea, bukan Pyongyang.

“Korea Utara tidak pernah menjatuhkan bom ke negara lain, tidak pernah menembakkan rudal di negara lain, dan tidak pernah mengerahkan pasukan di luar wilayahnya,” pungkasnya. (AL/Sputnik)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL