APTOPIX Police Shooting MissouriLiputanIslam.com — Sebuah situs internet bernama “GoFundMe” berhasil menggalang donasi online senilai $250.000 bagi Darren Wilson, polisi yang telah menembak mati seorang remaja negro bernama Michael Brown beberapa waktu lalu. Demikian laporan media Rusia RIA Novosti, 23 Agustus lalu.

Sementara itu kantor berita AS, CNN, tanggal 20 Agustus menuliskan laporan menarik berjudul “Support grows for Darren Wilson, officer who shot Ferguson teen Michael Brown” yang memaparkan adanya gerakan simpati publik AS terhadap Darren Wilson.

Selain penggalangan dana, beberapa kelompok dan individu menggelar berbagai aksi untuk menyuarakan dukungan terhadap Wilson.

“Sementara negara ini menyaksikan dan mendengar protes-protes kemarahan untuk mendukung korban penembakan kulit hitam Michael Brown, sebuah dukungan yang lain disuarakan bagi polisi kulit putih yang menembak mati remaja tidak bersenjata itu,” tulis wartawan CNN Julia Talanova, dalam laporannya.

Lalu apa sebenarnya yang terjadi sehingga Darren Wilson mendapat simpati, sementara media-media massa menggambarkannya sebagai manusia tidak berkemanusiaan yang “menembak orang tak bersenjata dan tidak melawan petugas secara keji hingga 6 kali tembakan”?

Ya, media-media seolah sepakat mengabarkan Wilson telah menembak Brown sebanyak 6 kali, pada saat Brown telah mengangkat tangannya sebagai tanda menyerah. Sedangkan keterangan polisi yang menyebutkan Brown telah melakukan aksi perampokan dengan kekerasan dan melukai serius wajah Wilson sebelum akhirnya ditembak, nyaris tidak pernah diberitakan media massa.

Bahkan Fox News yang sempat memberitakan tentang luka serius yang dialami Wilson akibat tindak kekerasan yang dilakukan Brown, secara aneh mencabut berita tersebut di situsnya tanpa penjelasan.

“Wakil kepala polisi membawanya (Wilson) ke rumah sakit. Wajahnya bengkak pada satu sisi. Ia telah dipukuli dengan sangat keras.”

Demikian tulis wartawan Fox News Hollie McKay dalam laporannya berjudul “Missouri cop was badly beaten before shooting Michael Brown” tanggal 20 Agustus lalu.

Secara misterius laporan ini tidak lagi bisa diakses. Demikian juga keterangan kepolisian Ferguson yang menyebutkan Brown telah melakukan perampokan sebuah toko sebelum tertembak, tidak pernah disinggung media massa.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi sehingga media massa dan pejabat Amerika berusaha menampilkan seorang penjahat sebagai seorang pahlawan, sementara seorang polisi yang melakukan tugasnya justru digambarkan sebagai seseorang yang jahat?

Para jurnalis dan analis independen seperti John Kaminsky, David Duke, Christopher Bollyn telah lama mengingatkan tentang fenomena “kriminalisasi warga kulit putih” di Amerika dan Eropa dimana warga kulit putih merupakan warga mayoritas.

Pada umumnya mereka melihat ada 2 agenda penting dengan fenomena tersebut. Yang pertama adalah marginalisasi warga kulit putih dan yang kedua adalah legalisasi militerisasi jajaran aparat pemerintah dengan tujuan memperkuat kontrol pemerintah (negara) atas rakyatnya.

Hal kedua sangat jelas dengan adanya penggelaran aparat kepolisian yang dipersenjatai dengan perlengkapan militer seperti senapan serbu dan mobil lapis baja untuk membubarkan aksi kerusuhan yang terjadi menyusul tewasnya Michael Brown. Tidak berhenti sampai di situ, pemerintah bahkan mengerahkan pasukan Garda Nasional untuk menghentikan kerusuhan.

Penggelaran kekuatan yang di luar proporsi ini kontan menuai banyak kecaman, dan Presiden Obama Barack pun buru-buru memerintahkan penyelidikan atas penggelaran senjata militer di antara aparat kepolisian setelah pasukan Garda Nasional ditarik mundur.

Sebagaimana laporan LI beberapa waktu lalu (baca: Amerika Negara Fasis?), Department of Homeland Security (lembaga keamanan internal setingkat kementrian yang dibentuk paska Tragedi WTC tahun 2001) telah membeli 3.000 kendaraan lapis baja pengangkut personil dan lebih dari 1 miliar butir peluru. Hal ini menjadi sorotan media-media independen yang menuduh pemerintah bermaksud menjadikan Amerika sebagai negara polisi yang jauh menyimpang dari konstitusi. Hal ini pulalah yang kemungkinan mempengaruhi kesadaran masyarakat untuk mengecam aksi pengerahan kekuatan militer di Ferguson.

Namun tentang marginalisasi warga kulit putih tentu saja sangat sulit dibuktikan, meski tentu saja sangat mudah untuk dirasakan oleh warga kulit putih.

Kembali ke tahun 1991. Rodney King, seorang warga kulit hitam yang baru keluar dari penjara setelah dihukum 2 tahun karena perampokan dengan kekerasan, mengelak dari kejaran polisi setelah melakukan pelanggaran lalu lintas. Setelah berhasil ditangkap, beberapa polisi yang marah memukulinya.

Seseorang yang menyaksikan adegan itu memvideokan adegan pemukulan itu dan kemudian menjualnya ke media massa. Gambar adegan itu kemudian menjadi penyulut aksi kerusuhan rasial terbesar di Amerika yang menewaskan 52 orang.

Sejak itu media massa gancar memberitakan tindakan kekerasan polisi dan warga kulit putih terhadap warga kulit hitam, namun terkesan menutup mata jika pelaku kejahatan adalah warga kulit hitam dan korbannya adalah warga kulit putih.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL