jokowi soheartoLiputanIslam.com — “Jokowi Effect” atau fenomena Jokowi adalah satu rangkaian peristiwa-peristiwa yang mengiringi kemunculan nama Jokowi (Joko Widodo), seorang walikota kelas menengah Surakarta, yang sebelumnya tidak banyak dikenal rakyat Indonesia, menjadi seorang tokoh nasional yang dianggap sebagai kandidat terkuat presiden Indonesia mendatang.

Fenomena “Jokowi Effect” ini pertama kali muncul ketika Jokowi melakukan beberapa kebijakan populer yang mendapat porsi pemberitaan sangat besar oleh media-media nasional. Yang pertama adalah keberaniannya menentang kebijakan Gubernur Jateng Bibit Waluyo yang notabene adalah seorang jendral TNI AD. Tindakan lainnya yang lebih fenomenal adalah inisiatifnya mempromosikan mobil buatan para pelajar SMK, “Esemka”. Untuk menunjukkan keseriusannya, Jokowi bahkan mengganti mobil dinasnya dengan mobil “Esemka” hingga mengendarai sendiri mobil itu ke Jakarta untuk menjalani uji kelayakan.

Tindakan-tindakan populisnya itu, yang didukung oleh pemberitaan massif di media-media massa nasional, dengan cepat mengantarkan nama Jokowi sebagai tokoh nasional hingga mendorong beberapa politisi dan pengusaha nasional untuk mengusungnya menjadi kandidat Gubernur DKI, sebuah jabatan yang strategis, yang berhasil diraihnya dengan relatif mudah tahun 2012.

Dan fenomena “Jokowi Effect” tidak berhenti sampai di situ, sehingga partai PDI-Perjuangan pun meminangnya sebagai capresnya pada pemilu presiden bulan Juli mendatang sekaligus daya penarik suara beberapa pilkada provinsi dan pemilu legislatif tgl 9 April kemarin.

Adapun “Soeharto Effect” adalah fenomena kerinduan masyarakat Indonesia dengan kepemimpinan Presiden Soeharto, presiden kedua Indonesia yang memimpin negeri ini selama 30 tahun lebih dan harus turun dari jabatan karena gerakan Reformasi tahun 1998.

Fenomena ini pertama kali muncul saat pemakaman beliau yang meninggal dunia akibat penyakit tua-nya pada tahun 2008 lalu. Saat itu, tanpa diduga ternyata rakyat Indonesia masih banyak yang mencintai beliau yang diperlihatkan dengan adanya ribuan pengantar kepergian beliau sepanjang jalan raya di Jakarta. Sejak itu, berbagai suvenir bergambar Soeharto pun mulai bermunculan di masyarakat. Yang paling terkenal adalah gambar Soeharto yang berkata: “Piye Le Kabare, Isih Enak Jamanku Tho?” (bagaimana nak kabarnya, masih lebih enak jamanku khan?).

Fenomena “Soeharto Effect” ini terkonfirmasi oleh hasil survei yang diselenggarakan lembaga survei Indobarometer tahun 2011, yang menunjukkan Soeharto sebagai presiden yang paling disukai di antara semua presiden Indonesia sejak Soekarno hingga SBY. Survei juga menunjukkan bahwa 40% rakyat Indonesia merindukan era Soeharto.

Survei tersebut dilakukan di Jakarta dengan menggunakan 1.200 responden. Hampir bisa dipastikan hasilnya akan lebih signifikan lagi jika dilakukan di daerah, dimana sentimen positif terhadap Soeharto masih sangat kuat. Fadli Zon, Waketum Partai Gerindra, dalam satu acara “talkshow” di satu televisi swasta nasional bahkan menyebutkan bahwa lebih dari 60% rakyat Indonesia masih mencintai Soeharto.

Dalam masa persiapan hingga masa kampanye pemilu legislatif baru-baru ini, ada 2 partai yang tidak segan-segan menggunakan sentimen “Soeharto Effect” sebagai senjata andalannya, yaitu Partai Golkar dan Gerindra. Partai Golkar bahkan meminang salah satu putri Seharto, Tatik Soeharto sebagai caleg nomor 1 Golkar untuk Daerah Pemilihan Yogyakarta.

Lalu sejauh mana pengaruh dari “Jokowi Effect” dan “Soeharto Effect” dalam pemilu legislatif kemarin?

“Soeharto Effect” memang tidak banyak berpengaruh bagi Golkar yang perolehan suaranya hanya mengalami kenaikan yang tidak signifikan. Ada kemungkinan hal ini dipengaruhi oleh “Boneka Effect” yang menggerus popularitas Ketua Umum dan Capres Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical). Sebagaimana diketahui, foto Ical yang tengah memeluk boneka milik Zalianti bersaudara membuat dirinya menjadi olok-olokan nasional dan menjatuhkan popularitasnya. Namun “Soeharto Effect” diyakini berpengaruh besar bagi Gerindra yang perolehan suaranya mengalami lonjakan sangat signifikan hingga lebih dari 100%.

Bagaimana dengan “Jokowi Effect”?

Fenomena Jokowi yang mampu meluluhkan hati Megawati hingga rela mengubah pernyataannya sendiri tentang “timing” pencalonan presiden, yang sebelumnya disebut akan dilakukan setelah pemilu legislatif menjadi sebelum pemilu legislatif, dengan harapan akan mendongkrak perolehan suara PDI Perjuangan hingga 27%, ternyata meleset. PDI Perjuangan harus rela mendapatkan suara kurang dari 20% sehingga memaksa Megawati harus mengeluarkan energi tambahan untuk menggalang koalisi dengan partai-partai lain demi meng-goal-kan calonnya sebagai capres mendatang.

Namun itu semua baru permulaan. Pertarungan sesungguhnya antara “Soeharto Effect”, yang kini hanya diwakili Prabowo Subianto, dengan “Jokowi Effect” akan kembali terulang dalam pilpres mendatang.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL