Deklarasi ANNAS

Deklarasi ANNAS

Bandung, LiputanIslam.com–Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) kembali menggelar seminar dengan tema “Bahaya Ideologi Syiah terhadap keutuhan NKRI” di Mesjid Al Fajr, Jalan Cijagra Raya Buah Batu Kota Bandung, Minggu (29/11/2015). Dalam undangan yang didapatkan LI melalui grup WhatsApp, disebutkan bahwa yang akan menjadi pembicara adalah Ketua Umum MUI Jawa Timur, Abdussomad Buchori, Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Faturrahman Kamal, dan Kakostrad ABRI Masa Orde Baru, Mayjen (TNI) Purn Kivlan Zen, dan Pakar Hukum Tata Negara, Asep Warlan Yusuf.

Meskipun kontributor LI tidak berhasil memastikan apakah Mayjen (purn) Kivlan Zen benar-benar hadir dalam seminar ANNAS atau tidak, namun, penyebutan namanya dalam undangan cukup menarik perhatian. Kivlan pernah dikait-kaitkan dengan kerusuhan Ambon. Saat masih menjabat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Maret 1999, Gus Dur sempat melontarkan pernyataan, seorang perwira tinggi TNI dengan inisial ”Mayjen K” turut menjadi provokator dalam kerusuhan Ambon. Kivlan merasa, tuduhan itu dialamatkan hanya kepada dirinya. Kebetulan di TNI, hanya dia yang namanya berawal dengan huruf K. Ketika itu, Kivlan langsung mendatangi rumah Gus Dur di Ciganjur untuk klarifikasi. Meski mengaku yang dimaksudnya bukan Kivlan, Gus Dur tak juga membuka siapa ”Mayjen K”-nya itu (gatra.com)

Bersama Prabowo Subianto, Kivlan berada dalam barisan “ABRI Hijau” yang dikenal dekat dengan kalangan Islam. Kelompok ini sukses melengserkan Jenderal Benny Moerdani dari kursi Panglima ABRI. Benny yang diplot menjadi wakil presiden, kabarnya didukung kelompok “ABRI Merah Putih”.

Kivlan juga berperan dalam menggalang massa untuk memuluskan Sidang Istimewa (SI) MPR pada 10-13 Nopember 1998, yang berakibat bentrokan massa di berbagai wilayah. Kivlan disebut sebagai orang yang berinisiatif merekrut massa dari kalangan ormas Islam. Sekitar 30 ribu massa pendukung Sidang Istimewa yang tergabung dalam Komite Islam Bersatu Penyelamat Konstitusi (KIBLAT) mengadakan apel akbar di Parkir Timur Senayan empat hari menjelang digelarnya SI. (intelijen.co.id).

Ujaran Kebencian yang Diulang-Ulang

Secara umum acara seminar ANNAS mengulang-ulang ujaran kebencian (hate speech) sebagaimana yang telah mereka lakukan dalam berbagai acara serupa.

“Perlu pendekatan politik dan aturan hukum yang melawan mereka [Syiah]. Pemerintah harus tegas dalam menyikapi ini, sebelum paham Syiah semakin menjalar di Indonesia,” ujar Ketua Umum MUI Jawa Timur, Abdussomad Buchori .

Ia mengungkapkan MUI Jawa Timur sudah mengeluarkan fatwa tentang kesesatan ajaran Syiah, seraya mendorong agar MUI Pusat juga membuat fatwa serupa. Pembicara yang lain, Fathurrahman Kamal dan Asep Warlan Yusuf juga menyebut Syiah sebagai ancaman bagi Indonesia dan meminta pemerintah bertindak tegas. Asep bahkan menyarankan agar pemerintah memutuskan hubungan dengan Iran.

ANAS-GETOL Bantah ANNAS

Klaim-klaim tokoh-tokoh ANNAS yang menyebut Syiah sebagai Ancaman NKRI mendapat bantahan dari Aliansi Nasional Gerakan Toleransi (ANNAS Getol) yang dideklarasikan di Bogor. Mereka menyebut ANNAS sebagai kelompok intoleran yang hendak membuat gaduh negara ini, dan jika pemerintah tidak berkutik melawan ANNAS, maka Banser NU yang akan turun tangan. (Baca: Lawan Intoleransi di Bogor, Beberapa Elemen Masyarakat Deklarasikan ANAS – GETOL)

Klaim-klaim kebencian ANNAS juga telah ditangkis oleh Muslimedianews (MMN), situs Ahlussunah wal Jamaah Indonesia. Menurut MMN, justru sebenarnya Indonesia sedang darurat Wahabi yang gemar mengkafir-kafirkan.

“Wahabi secara mutlak mengkafirkan Syiah. Berbeda dengan Aswaja yang masih mengklasifikasi kelompok Syiah. Konsekuensi dari mengkafirkan yang mereka lakukan itu berarti halal darahnya atau boleh dibunuh. Dalam hal ini, Wahabi sedang mencari legitimasi untuk melakukan pembunuhan terhadap Syiah.

Siapa yang akan jadi korban? Korban utama dan terbanyak adalah Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), sebab Aswaja sebagai kelompok umat Islam terbesar pun dituduh Syiah dan pembela Syiah oleh Wahabi, akhirnya darahnya dihalalkan pula oleh Wahabi.” (Baca: Indonesia Darurat Syiah atau Wahabi Radikal?)

Liputan Islam pernah mewawancarai seorang mahasiswa Sunni asal Indonesia yang berada di Iran. Namnya Syarif, dan ia membantah bahwa mereka dijejali dengan doktrin yang salah. Justru, mahasiswa-mahasiswa ini dididik bersikap terbuka. Setiap mata kuliah sudah dibentuk dalam sebuah diktat yang benar-benar pendekatan, misalnya mata kuliah aqidah setiap masalah aqidah dibahas menurut berbagai mazhab; penyampaiannya pun dengan sangat menghargai mazhab atau tidak merendahkan satu mazhab tertentu. Baca: (Mahasiswa Sunni Indonesia di Iran: Betul, Kami Didoktrin) (ba/fa)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL