gangster igualaMexico City, LiputanIslam.com — Setelah menjalani interogasi intensif, akhirnya para anggota gangster mengaku telah membunuh lebih dari 40 pelajar yang hilang selama lebih dari 6 minggu. Demikian pernyataan Jaksa Agung Mexico Jesus Murillo, Jumat (7/11) petang.

Sebagaimana dilaporkan BBC News, dalam pernyataan itu Murillo mengatakan bahwa anggota-anggota gangster mengakui telah menerima para pelajar itu dari polisi yang menyerahkan mereka.

Mereka menyebutkan, saat diserahkan oleh polisi sebagian pelajar itu telah meninggal dan mereka menembak mati sisanya, sebelum membakar jenasah mereka semuanya.

Sebanyak 43 pelajar hilang paska melakukan kegiatan demonstrasi di kota Iguala tanggal 26 September lalu. Para saksi menyebut para pelajar itu ditangkap oleh polisi sebelum menghilang. Selain mereka, 6 orang lainnya tewas setelah polisi menembaki mereka saat berlangsung demonstrasi.

Puluhan polisi dan anggota kelompok gangster Guerreros UNidos telah ditangkap terkait dengan insiden ini. Polisi juga telah menangkap walikota Iguala dan istrinya yang diduga kuat menjadi dalang utama aksi penculikan dan pembunuhan para pelajar itu.

Pemimpin gangster Guerreros Unidos yang tertangkap mengakui bahwa walikota Jose Luis Abarca dan terutama istrinya Maria de los Angeles Pineda, adalah pengendali organisasi-organisasi kriminal di kota Iguala. Keduanya ditangkap saat menyembunyikan diri di Mexico City, hari Selasa (4/11).

Keluarga para pelajar yang hilang mengatakan telah mendapat laporan tentang penemuan 6 tas berisi mayat di pinggir sungai dekat lokasi hilangnya para pelajar itu. Namun Murillo mengakui membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk mengidentifikasi mayat-mayat yang ditemukan melalui tes DNA.

Beberapa kuburan massal telah ditemukan dalam pencarian para pelajar itu, namun sejauh ini mayat-mayat yang ditemukan tidak ada yang cocok dengan identitas para pelajar.

Dalam pernyataan pers yang digelarnya, Murillo memperlihatkan rekaman pengakuan anggota-anggota gangster yang telah mengangkut mayat-mayat para pelajar ke dalam “dump truck” dan membuang mereka ke tempat penimbunan tanah di Cocula, dekat kota Iguala.

Murillo menambahkan, terakhir jenasah-jenasah para pelajar itu dibakar di bawah tumpukan kayu, plastik dan ban-ban kendaraan bekas yang apinya menyala selama 14 jam.

Setelah api padam dan jenasah-jenasah itu mendingin, anggota-anggota gangster memasukkan mereka ke dalam tas dan membuangnya ke sebuah sungai.

“Kerusakan hebat yang disebabkan oleh kebakaran membuat sangat sulit untuk mendapatkan DNA mayat-mayat itu untuk diidentifikasi,” tambah Jaksa Agung.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL