Washington, LiputanIslam.com—Presiden AS Donald Trump merupakan seorang penghasut perang yang lebih keras dibandingkan presiden pendahulunya. Maka dari itu, lebih cepat ia berhenti berkuasa, dunia akan lebih damai. Demikian kata seorang analis intelijen AS, Wayne Madsen.

Madsen, yang juga merupakan penulis dan kolumnis hubungan internasional, memaparkan analisisnya kepada Press TV pada Selasa (11/7/18).

Menurutnya, klaim Trump bahwa ia tidak mau ikut serta dalam agresi militer AS terdahulu adalah klaim yang jauh dari fakta. Faktanya kini, presiden ke-45 AS itu lebih mudah menyatakan perang dibandingkan mantan presiden George W. Bush dan Barack Obama.

“Dia telah menciptakan masalah dengan Cina. Dia mengklaim tanpa bukti bahwa Cina dengan cara tertentu bertanggungjawab atas langkah Kim Jong-un dari Korut yang tidak mengikuti perjanjian yang dibuat bersama Trump di Singapura… Dia menciptakan ketegangan di selat Taiwan dengan manuver AL ini,” paparnya.

Menurut laporan dari Bussines Insider, pada awal tahun ini Pentagon diam-diam mengubah kalimat visi dan misi mereka dalam website resmi mereka.

Pada awalnya, Pentagon mendefinisikan misi mereka yaitu dengan menyediakan “pasukan militer yang  dibutuhkan untuk menghalangi perang dan untuk melindungi keamanan negara kita,”

Namun, kini kalimat itu berubah menjadi: “Misi Departemen Pertahanan adalah untuk menyediakan Pasukan Gabungan yang mematikan untuk membela keamanan negara kita dan menjaga pengaruh Amerika di luar negeri.”

Perubahan ini memperlihatkan pergeseran pendekatan pemerintah Donald Trump bagi keamanan nasional AS yang lebih agresif. (ra/presstv/bussinesinsider)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*