LiputanIslam.com—Seorang analis sekaligus Profesor Filsafat di Universitas Minnesota, James Fetzer, mengatakan rencana Presiden Trump untuk menerjunkan 1.500 pasukan ke Timur Tengah, menyusul naiknya ketegangan dengan Iran, menggambarkan ambivalensinya terhadap lingkungan politik di kawasan.

Ia mengatakan penasehat kebijakan luar negeri Trump, seperti penasehat keamanan nasional, John Bolton dan Sekneg Mike Pompeo adalah para pengintai Iran yang sangat dipengaruhi oleh Israel.

“Tentu saja, kita punya segudang alasan untuk berkata bahwa Donald Trump sendiri telah mengadopsi kebijakan luar negeri Israel,” ucapnya seperti dikutip Presstv pada Jum’at (24/5).

Fetzer berpendapat bahwa Iran, sampai saat ini, tidak melakukan tindakan apapun yang membahayakan Amerika. Menurutnya, Iran hanya mempertahankan diri, itu pun dalam rangka menjaga kedaulatan negara Iran.

Sebelumnya, Trump sempat mengumumkan akan menerjunkan sekitar 1.500 pasukan ke Timur Tengah, mengklaim tindakannya sebagai upaya mempertahankan diri dari serangan Iran.

“Kami ingin memiliki perlindungan di Timur Tengah. Kami akan mengirim sejumlah kecil pasukan kami ke sana,” ucap Trump kepada para wartawan saat meningalkan Gedung Putih untuk berkunjung ke Jepang.

Baca: Iran Akan Hempaskan Militer AS dengan Senjata Rahasia

Pentagon menjelaskan pasukan yang akan diterjunkan berjumlah 900 orang, sementara 600 pasukan lainnya telah berada di Timur Tengah dengan masa kerja yang akan diperpanjang.

Pemerintah Trump telah meningkatkan tekanan terhadap Iran pasca mundurnya AS dari persetujuan nuklir yang telah disepakati oleh negara-negara penguasa dunia pada 2015. Tak hanya itu, Gedung Putih juga memperketat sanksi ekonomi atas Iran serta mencantumkan Pasukan Garda Revolusi Islam (IRGC) ke dalam daftar kelompok teroris. (fd/Presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*