Washington, LiputanIslam.com–Pelaku teror di masjid Selandia Baru mengalami ‘cuci otak’ dari serangan ‘bendera palsu’ 9/11 yang diciptakan Israel. Demikian kata pengamat politik bergelar Ph.D. di studi Islam dan Arab, Kevin Barrett.

Serangan penembakan pada Jumat (15/3) kemarin merupakan kejadian genosida terburuk di Selandia Baru, di mana sebanyak 49 orang tewas dan 40 orang terluka.

Penembak bernama Brenton Tarrant diketahui menyiarkan rekaman serangannya secara langsung di Facebook, setelah ia mengumumkan “manifesto” yang menyebut imigran sebagai “penjajah.”

Dalam menifesto itu, Tarrant memuji Trump sebagai “simbol identitas kulit putih dan simbol tujuan bersama.”

“Saya pikir menarik melihat pria bersenjata ini menglorifikasi Trump di saat yang sama Trump sendiri dikelilingi gerakan Zionis neo-konservatif di Barat yang benar-benar menciptakan kekacauan peradaban dengan operasi ‘bendera palsu’ 11 September 2001 yang dirancang untuk menanamkan Islamophobia antar-generasi,” papar Barrett dalam wawancara dengan Press TV.

“Pria bersenjata ini mungkin adalah satu dari sekian juta orang yang dikontrol pikirannya oleh operasi 9/11 dan operasi-operasi lainnya untuk membenci Islam, dan hal ini tentu saja telah menyebabkan genosida kaum Muslim di seluruh dunia,” imbuh penulis, jurnalis, sekaligus pembawa acara radio itu.

Menurutnya, angka korban teror Selandia Baru yang relatif ‘kecil’ ini hanyalah bagian dari 32 juta orang Muslim yang menjadi korban akibat penyerangan yang dipicu operasi 9/11 Zionis. (ra/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*