Washington, LiputanIslam.com–Serangan rudal AS dan sekutunya ke Suriah pada Jumat (13/4/18) kemarin tampak sangat mencurigakan, karena kemungkinan ditujukan untuk mencegah pembuktian penggunaan senjata kimia di Douma. Demikian kata analis politik internasional, Jim Jatras, kepada media RT.

Serangan ini dilakukan sebelum kelompok penyelidik khusus senjata kimia PBB, OPCW, masuk ke Douma untuk mencari tahu apakah terdapat senjata kimia yang dituduhkan Barat kepada pemerintah Suriah.

Menurut Jatras, “mencegah investigasi langsung di Douma adalah salah satu alasan [serangan AS ke Suriah].”

Dia menyebut tuduhan serangan gas di Douma merupakan operasi bendera palsu (false flag) dan “sebuah kebohongan yang sadar dilakukan”, sebagaimana yang terjadi tahun lalu di Khan Sheikhoun.

“[AS] berperilaku sebagai kekuatan militer dari kelompok-kelompok teroris ini– Al-Qaeda, ISIS, Jaysh al-Islam dan Ahrar al-Sham, dan itu sangat tercela secara moral,” imbuhnya.

Jurnalis independen dan mantan koresponden Wall Street Journal PBB, Joe Lauria, menilai bahwa serangan AS dan sekutunya telah meyeleweng hokum internasional, karena itu tidak sejalan dengan Pasal 51 United Nations Charter.

Menurutnya, karena memakai operasi bendera palsu, AS akan menyerang Suriah kapan saja dengan alasan apapun.

“Dengan kata lain, mereka [AS] tidak butuh bukti,” kata Lauria, seperti halnya “mereka tidak butuh bukti ketika menuduh Rusia mengintervensi pemilu, atau bahwa Rusia mencoba membunuh seorang mantan agen intelijen.” (ra/rt)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL