Washington, LiputanIslam.com–Mantan penasihat kebijakan luar negeri Senat Amerika, James Jetras, mengatakan bahwa risiko perang antara AS dan Korea Utara meningkat hingga 30 persen setelah militer AS mengeluarkan ultimatum 24 jam dengan bomber B-52.

Komentar ini diberikan dalam wawancara dengan Press TV pada Selasa (24/10/17) setelah Jenderal David Goldfein mengumumkan bahwa militernya akan memperbarui bomber B-52 untuk pertama kalinya sejak tahun 1991 sebagai ancaman terhadap Korea Utara.

“Dengan dipakainya bomber AS dalam ultimatum 24 jam merupakan langkah ancaman oleh Amerika untuk memperlihatkan bahwa kita serius meminta Korut mengakhiri program nuklir dan rudal mereka,” kata Jatras.

Namun, dia menilai langkah tersebut buruk karena Korut malah akan memberikan ancaman atau serangan balik.

“Korut tidak akan menyerahkan senjata nuklir mereka. Dan semakin banyak kita mengancam, mereka akan cenderung memberikan ancaman balik,” tambahnya.

“Sejauh yang saya lihat, risiko perang menjadi meningkat… yaitu sekitar 30 persen,” ungkapnya.

Bomber B-52 dapat terbang sekitar 50.000 kaki dan dengan kecepatan subsonic (di bawah kecepatan suara). Bomber ini diketahui mampu menembakkan segala macam senjata, termasuk bom kluster dan bom gravitasi. (ra/presstv)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL