Washington, LiputanIslam.com—Presiden AS Donald Trump tengah menghadapi pertentangan keras oleh para “elit” Partai Republik dan Demokrat yang tidak setuju dengan hubungan sang presiden dengan Rusia. Demikian kata analis asal New York, Don DeBar, kepada kantor berita Press TV pada Minggu (16/7/17).

DeBar menilai, demo anti-Trump yang baru-baru ini digelar di seluruh wilayah AS sebenarnya merupakan reaksi kemarahan dari pejabat Demokrat dan liberal kepada Trump.

Pada Sabtu lalu, demo anti-Trump digelar setidaknya di 20 kota Amerika,  termasuk di antaranya Atlanta, New York City, New Jersey, Chicago, Phoenix, Washington, Boston, Portland dan Los Angeles.

“Demo massal itu sebenarnya diikuti pendukung Partai Demokrat yang marah atas kemenangan Partai Republik,” kata DeBar, dengan menambahkan bahwa Barack Obama dan Hillary Clinton juga akan diperlakukan seperti itu jika dia dari Republik.

Dia menilai, pejabat elit dari kedua partai bersikap agresif menentang Trump karena “dekat dengan Rusia.”

“Ada segmen luas dari para elit [AS] yang ingin membuat sebuah kebijakan sejak jatuhnya Uni Soviet, yaitu untuk menjarah Rusia, menjatuhkan Federasi Rusia dan melanjutkan perampasan… minyak dan gas mereka,” ujarnya.

Selama kampanye pemilu 2016, Trump berjanji untuk berhubungan dekat dengan  Presiden Rusia Vladimir Putin dan bekerjasama dengannya untuk menyelesaikan isu-isu global seperti terorisme.

Dan sejak awal kepemimpinannya di Gedung Putih, Trump berada di bawah investigasi atas dugaan “kolusi” dengan Rusia untuk memenangkan pemilu.

“Ancaman paling besar terhadap kepemimpinan Trump berada di belakang pemerintah, yaitu dari orang-orang yang menginginkan kebijakan agresif AS terhadap Rusia, Cina, Iran dan musuh lain dari kapitalisme AS,” papar DeBar. (ra/presstv)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL