Washington, LiputanIslam.com–Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya tidak tulus dalam menyampaikan kecaman kepada pemerintah Myanmar yang melakukan kekejaman terhadap Muslim Rohingya. Demikian  penilaian dari ahli hubungan internasional asal Washington, James Jetras, dalam wawancara kepada PressTV pada Jumat (8/9/17).

“Saya selalu curiga terhadap motif pemerintah Barat dan media Barat ketika mereka mengangkat perkara kelompok Muslim minoritas di sejumlah negara,” kata Jatras.

“Kita ingat bagaimana Barat melakukan hal yang sama dengan Muslim Albania Kosovo di Serbia pada tahun 1990,” tambahnya.

“Mereka berpura-pura menangis; mereka menunjukkan rasa kepedulian yang besar, namun apa yang sebenarnya terjadi adalah mereka mencoba menutup-nutupi aksi mereka sendiri di kawasan seperti Irak, Libya, dan Suriah,” lanjutnya.

AS dan Inggris sebelumnya telah mengungkapkan kepedulian terhadap Rohingya, namun menolak untuk menjatuhkan sanksi internasional kepada pemerintah Myanmar. Mereka juga menolak menyalahkan pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, atas pengabaiannya terhadap tragedi berdarah tersebut.

Badan PBB yang menangani pengungsi, UNHCR, mengonfirmasikan pada Kamis lalu bahwa sekitar 164.000 Muslim Rohingya lari dari Rakhine state dan mencari perlindungan di kamp pengungsi di Bangladesh sejak dimulainya genosida pada 25 Agustus lalu.

Para pengungsi yang berhasil lari ke Bangladesh mengaku mereka diminta meninggalkan rumah mereka atau akan dibunuh oleh pasukan Myanmar dan kelompok Budha. (ra/presstv)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL