obama dan assadWashington, LiputanIslam.com—Pemerintah Amerika Serikat menilai Presiden Suriah, Bashar al-Assad sebagai musuh yang lebih berbahaya dibanding ISIS karena pemerintah Assad mencoba bebas dari cengkraman AS dan Israel. Demikian kesimpulan yang dikatakan oleh analis Amerika, Keith Preston.

Preston yang adalah editor di AttacktheSystem.com, menyatakan hal tersebut pada Rabu (21/09/16) setelah Menlu AS, John Kerry, meminta Rusia untuk memaksa pemerintah Suriah berhenti melakukan serangan udara ke kelompok teroris.

Dalam pertemuan dengan Dewan Keamanan PBB, Kerry meminta Moscow bertanggung jawab atas serangan terhadap  konvoi kendaraan bantuan PBB di Aleppo yang mengakibatkan terbunuhnya 12 petugas kesehatan dan 18 truk Syrian Red Crescent.

“Saya cenderung berpikir insiden tersebut berasal dari serangan drone Amerika karena kejadian ini sama dengan riwayat serangan drone yang dilakukan AS di berbagai tempat,” kata Preston.

Preston melanjutkan, serangan tersebut dan buntut permasalahnya memperlihatkan konflik kepentingan antara Rusia dan AS.

Pemerintah Bashar al-Assad “dilihat oleh Rusia sebagai benteng perlawanan terhadap terorisme,”  kata Preston. Ia juga mengatakan, Rusia bergabung dalam konflik ini untuk menahan pertumbuhan ISIS.

Pemerintah AS di saat yang sama mempunyai pendapat berbeda dan menilai Assad sebagai musuh yang lebih besar dan berbahaya.

“Rezim yang diperangi oleh Amerika adalah rezim independen di Timur Tengah, yaitu rezim yang tidak berkerjasama dengan sistem Washington atau yang tidak mau bersekutu dengan Israel,” lanjutnya. “AS telah mencoba menangani di tengah-tengah. Mereka mencoba menjatuhkanAssad, namun di saat yang sama mereka tidak mau buka-bukaan membantu ISIS.”

Selain membantu ISIS, Washington juga melatih dan menyuplai senjata kepada para militan yang mau melawan pemerintah Suriah. (ra/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL