Washington, LiputanIslam.com—Penarikan AS dari perjanjian nuklir Iran pada Selasa (8/5/18) merupakan langkah awal rencana Negeri Paman Sam itu untuk menggulingkan rezim di Iran seperti skenario di Irak. Demikian analisis dari ahli Timur Tengah, Sami Ramadani, kepada RT.

“Jika Anda mendengar secara hati-hati apa yang dikatakan Trump, AS benar-benar bukan hanya menarik diri dari perjanjian multilateral internasional,… tapi juga sebenarnya mengancam sebuah perubahan rezim di Iran,” ucapnya.

Menurut Ramadani, cara berbicara Trump dalam pidatonya ketika mengumumkan bahwa AS keluar dari JCPOA, mirip sekali dengan pidato George Bush Jr sebelum invasi AS di Irak pada 2003.

Dia menambahkan, saat itu AS tidak hanya menggulingkan rezim Irak, namun juga seluruh negara “dihancurkan.”

Di balik ini semua, Washington sebenarnya menginginkan lebih banyak dari Tehran dari pada hanya konsesi tentang perjanjian nuklir.

“Saya rasa Iran tidak bisa membuat konsesi lebih jauh lagi– mereka bilang mereka tidak pernah merencanakan pengembangan senjata nuklir dan kepatuhan mereka atas perjanjian itu telah dikonfirmasi oleh IAEA,” nilai Ramadani.

Menurut catatannya, apa yang AS inginkan dari Iran sesungguhnya adalah agar negara itu melepaskan kemerdekaannya. “Itu intinya… Mereka tidak mau ada negara yang merdeka dan kuat di dunia, terutama di Timur Tengah.”

“Berbeda dari yang kita pikirkan tentang sistem politik negara itu, Iran telah memilih jalan kemerdekaan dari AS. Mereka tidak mau menjadi budak kebijakan AS di kawasan. Dan AS pun mengancam mereka: ‘Kami akan menghukum kalian karena ini,’” paparnya.

Pada Selasa kemarin, Trump mengumumkan bahwa Washington akan “keluar dari perjanjian nuklir” dan bahwa sanksi akan dijatuhkan kepada Iran. Presiden AS ke-45 itu menjelaskan keputusannya bahwa perjanjian JCPOA tidak mencegah Tehran mengembangkan senjata nuklir. (ra/rt)

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*