Awal musim panas di Beit Sira, sebuah desa sekitar 15 kilometer dari Ramallah, Tepi Barat. Mahmoud Rafat Badran (15) siang itu baru saja bersenang-senang di kolam renang bersama beberapa sepupunya. Mereka pulang ke rumah dengan menggunakan mobil. Tiba-tiba saja, di Rute 443, seorang tentara Israel menghujani mobil mereka dengan peluru. Mahmoud tewas dan beberapa saudaranya terluka parah. Israel Defence Force (IDF) kemudian merilis statemen bahwa terjadi salah tembak dan akan menyelidiki kasus ini.

Mahmoud hanya satu dari sekitar 2 juta anak-anak Palestina di Tepi Barat yang setiap hari mengalami berbagai ancaman. Menurut The Palestinian Medical Relief Society (PMRS), anak-anak di Tepi Barat sangat dibatasi mobilitasnya. Anak-anak itu harus  melewati posko pemeriksaan militer yang sangat mengancam keselamatan mereka di banyak tempat saat bepergian antardesa dan antarkota.

Berdasarkan laporan Sekjen PBB kepada Dewan Keamanan pada April 2016,  sepanjang tahun 2015,  ada 30 anak Palestina yang tewas dan minimalnya 1.735 anak terluka, terutama di Tepi Barat, termasuk Jerusalem Timur. Kebanyakan dari angka itu adalah korban tembakan tentara Israel. Di antara mereka, ada 14 anak Palestina yang melakukan atau dicurigai akan melakukan penikaman terhadap warga Israel dan kemudian ditembak mati oleh IDF.

Korban kekerasan yang dilakukan Israel tidak hanya anak-anak, namun anak-anaklah yang menjadi korban terbanyak. Pada tahun 2014 saja, ada 556 anak di Jalur Gaza tewas akibat serangan Israel, 3.312 anak lainnya mengalami luka-luka. Agresi Israel ini juga menghancurkan rumah-rumah yang di dalamnya bernaung 125.079 anak-anak. Tahun 2014 menjadi tahun paling brutal bagi anak-anak Palestina, sejak 1967. Dalam rentang Oktober 2015-Maret 2016, ada 2100 anak Palestina yang terluka di Tepi Barat akibat serangan Israel (laporan PBB).

Namun media sangat minim melaporkan kejahatan ini. Yang di-blow-up oleh media Barat adalah kasus-kasus kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak muda Palestina, misalnya penikaman dan pelemparan batu. Padahal bila dibandingkan dengan akumulasi seluruh kebrutalan Israel, kekerasan itu sangat tidak sebanding. Terlebih, semua pelaku kasus penikaman langsung ditembak mati oleh tentara, dan kemudian sebagiannya terbukti melalui rekaman video bahwa tentara menembak mereka hanya berdasarkan kecurigaan. Perlawanan minor yang dilakukan anak-anak muda Palestina sangat mudah ditangkap sebagai bentuk keputusasaan meraka. Mereka adalah generasi yang sejak lahir sudah berada di bawah penjajahan dan tidak melihat ada harapan perbaikan bagi masa depan mereka. Aksi-aksi demo anak-anak Palestina menentang pendudukan Israel merupakan luapan rasa frustasi mereka.

Namun, Israel, yang selalu dipuji AS sebagai ‘negara paling demokratis’ di Timur Tengah, menghadapi aksi-aksi demo ini dengan sangat keras, tembak di tempat, atau hukuman penjara 20 tahun untuk aksi pelemparan batu. Sejak September 2015, Israel bahkan mengeluarkan undang-undang baru yang mengizinkan polisi untuk menembak kapan saja ada ancaman terhadap nyawa  mereka. Akibatnya, tentara Israel menjadi semakin semena-mena menembaki para demonstrator Palestina, bahkan terhadap anak-anak yang sekedar dicurigai akan menyerang (dan berkali-kali terbukti, anak-anak itu sama sekali tidak bersalah).

Al Quds Day

Di hadapan kejahatan kemanusiaan Israel, dunia seperti tidak berdaya. Dewan Keamanan PBB hanya mampu mengeluarkan resolusi-resolusi lunak yang tidak  ada manfaatnya. Kalaupun ada upaya bersikap lebih tegas kepada Israel, sekutu setianya, AS, akan segera memveto. Apalagi akhir-akhir ini, dunia disibukkan oleh “jihad” ke Suriah, sehingga berita-berita tentang Palestina menjadi terabaikan, padahal kejahatan Israel terus berlangsung.

Di tengah semua pengabaian ini, ada suara yang terus digemakan secara konsisten sejak kemenangan Revolusi Islam Iran tahun 1979, yaitu Peringatan Hari Al Qurd (Al Quds Day). Peringatan ini merupakan momen pernyataan solidaritas kepada PAlestina dan perlawanan terhadap Israel dan para pendukungnya (AS, Inggris, dll). Hingga kini, demonstrasi Al Quds Day tetap dilakukan secara rutin setiap tahun, setiap hari Jumat terakhir di bulan Ramadhan, di berbagai negara dunia.

Seperti dikatakan Dr. Kevin Barret dalam wawancaranya dengan situs whatsupic.com, Al-Quds merupakan simbol dari ibukota peradaban Islam, yang meliputi juga kehadiran kaum Kristen dan Yahudi.

“Al-Quds, dan Palestina secara umum telah menyimbolkan inklusivitas peradaban Islam sejak wilayah ini masuk ke dalam wilayah kekuasaan Islam pada tahun 637 M. Pada saat itu, warga Palestina secara aktif mendukung tentara Muslim karena mereka sudah lelah menghadapi pajak tinggi dan penindasan agama yang dilakukan para penguasa Byzantine.  Setelah kaum Muslims menguasai Palestina, mereka tinggal di tenda-tenda, bukan di istana, menurunkan pajak dan memberikan kebebasan beragama. Mereka juga membangun Masjid Al Aqsa dengan kubahnya yang menakjubkan, sehingga dikenal sebagai karya arsitektur terbesar Dunia Islam,” demikian urai Dr. Kevin.

Atas dasar itulah Dr. Kevin menekankan bahwa “Palestina adalah perjuangan bagi setiap Muslim dan setiap orang yang peduli pada kebenaran, keadilan, dan warisan peradaban manusia.”

Anak-anak Palestina, sama seperti anak-anak kita, berhak untuk hidup merdeka, aman, jauh dari penindasan. Karena itu, di hari Jumat terakhir bulan Ramadhan 1438 Hijriah ini, mari kita teriakkan lagi pembelaan kepada mereka. Tak sekedar pembelaan di mulut, tapi juga dalam berbagai langkah nyata, misalnya, menghentikan upaya-upaya kelompok-kelompok pro-Zionis (yang berkedok gerakan Islam) yang sejak beberapa tahun terakhir mengadu domba umat Islam dengan alasan “jihad” Suriah demi mendirikan khilafah di Suriah. Suriah sejak awal berdirinya Israel selalu bersikap tegas, melawan Israel. Namun kini, front terdepan perlawanan terhadap Israel itu malah diperangi habis-habisan oleh mereka yang mengaku berjihad. Langkah sekecil apapun, sekedar melawan hoax soal Suriah di medsos, adalah langkah penting demi mengembalikan front perlawanan global terhadap Israel yang saat ini sedang kocar-kacir.

Mari kembali menyatukan langkah, menunjukkan pembelaan kepada Palestina! (dw/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL