SusanRiceMTPWashington, LiputanIslam.com — Rusia sangat berkepentingan dengan Ukraina yang “bersahabat” atau setidaknya “netral” mengingat letak geografisnya yang berbatasan langsung dengan Rusia dan menjadi pangkalan Armada Laut Hitam Rusia. Maka sangat beralasan jika Rusia melakukan intervensi militer terhadap Ukraina ketika rezim Yakunovych yang pro-Rusia ditumbangkan oleh para demonstran pro-barat.

Karena alasan itulah maka Amerika, melalui Penasihat Keamanan Susan Rice, mengingatkan Rusia untuk tidak melakukan intervensi militer atas Ukraina. Hal itu disampaikan Susan dalam wawancara acara “Meet The Press” di televisi NBC, hari Minggu (23/2).

“Itu akan menjadi kesalahan besar. Bukan kepentingan Ukraina, Rusia, Eropa atau Amerika untuk melihat negeri itu pecah. Bukan kepentingan siapapun untuk melihat kerusuhan kembali dan situasi bertambah buruk,” kata Susan.

Ketika disinggung tentang kemungkinan Rusia akan memandang Ukraina dalam perspektif “perang dingin” dengan barat, Sudan menjawab hal itu “mungkin saja”. Namun menurut dia, perspektif seperti itu tidak lagi sesuai dengan aspirasi rakyat Ukraia, meski ia juga mengakui terdapat hubungan sejarah dan budaya yang tinggi di antara sebagian negara Ukraina dengan Rusia.

Pro-Rusia Demo di Ukraina Timur

Sementara itu pada hari Minggu (23/2) penduduk kota Kerch yang terletak di Ukraina timur dan berdekatan dengan Rusia, melakukan aksi demonstrasi dengan menurunakan bendera Ukraina dengan bendera Rusia.

Penduduk kota ini, sebagaimana sebagian besar kota-kota di wilayah timur dan tenggara Ukraina, memiliki hubungan kultural yang kuat dengan Rusia, bahkan mereka menggunakan bahasa Rusia dalam kesehariannya.

“Intervensi (barat) yang memalukan!”, “Krimea untuk Kedamaian”, “Fascisme Dilarang!” Demikian bunyi beberapa spanduk yang dibawa para pengunjuk rasa.

Protes tersebut terjadi sehari setelah polisi setempat bentrok dengan massa pro-Uni Eropa. Pengunjuk rasa meminta mereka untuk pergi.

Aksi-aksi tersebut terjadi pada saat berbagai rumor menyebutkan presiden terguling, Victor Yanukovych bersembunyi di Ukraina timur setelah gagal menyeberang ke Rusia. Namun keberadaan pastinya masih belum jelas hingga sekarang.

Pada hari Sabtu (22/2) Yanukovych mengatakan bahwa ia telah dipaksa untuk meninggalkan Kiev oleh apa yang disebutnya sebagai “vandalisme, kriminal dan kudeta.”

“Saya tidak ingin meninggalkan negeri ini. Saya tidak ingin mundur. Saya presiden yang syah,” katanya dalam rekaman video yang disiarkan televisi lokal.

Pada hari yang sama, pelaksana presiden yang ditunjuk parlemen sepeninggalnya Yakunovych, Oleksander Turchinov, menyerukan parlemen untuk segera membentuk pemerintahan sementara pada hari Selasa (25/2) hingga dilaksanakannya pemilu bulan Mei mendatang.(ca/press tv/bbc)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL