oposisi suriah amerikaLiputanIslam.com — Pada saat pemberontak Suriah meningkatkan aksi-aksi kejinya, termasuk membombardir sebuah madrasah di Syaghur, sebuah kota tua di Provinsi Damaskus hingga menewaskan belasan santri, akhir bulan lalu, para pemberontak justru semakin “mesra” dengan Amerika dan Israel.

Jika sebelumnya kita sudah mendengar Israel mengoperasikan rumah sakit untuk merawat pemberontak Suriah di Golan serta mengaktifkan sistem pertahanan udaranya untuk melindungi mereka, dari Washington, Amerika, kita baru saja mendengar kabar bahwa negara itu telah meningkatkan status kantor perwakilan bagi pemberontak Suriah. Selain itu Amerika juga menjanjikan bantuan senilai $27 juta kepada mereka.

“Ketika perang tengah berkecamuk di Suriah, kelompok oposisi utama negeri itu mendapatkan pengakuan sebagai “kantor misi asing” di Amerika dan bantuan $27 juta,” tulis koran utama Amerika Washington Post, Senin (5/5), menunjukkan semakin mesranya hubungan pemberontak Suriah dengan boss-nya, Amerika.

Menurut Washington Post, dengan status barunya itu para pemberontak mendapatkan perlakukan hampir seperti perwakilan negara berdaulat sendiri. Apalagi pengakuan yang diberikan AS pada hari Senin (5/5) itu hanya beberapa hari sebelum kunjungan pemimpin oposisi Suriah Ahmad al-Jarba. Dan dengan tambahan bantuan senilai $27 juta itu, total bantuan AS yang diberikan kepada para pemberontak Suriah mencapai $287 juta.

Dengan status baru sebagai kantor “misi asing” memberikan pemberontak hak tambahan di bidang perbankan di AS dan memungkinkan pemerintah AS memberikan fungsi keamanan tertentu kepada para pemberontak di AS. Lebih penting, kata penasihat Jarba, Rime Allaf, itu adalah “tanda yang jelas” dari legitimasi yang diberikan Amerika Serikat.
Tapi pemerintah AS masih tidak memiliki rencana untuk memberikan pemberontak apa yang mereka sangat inginkan, yaitu peningkatan yang signifikan dalam jumlah dan kecanggihan bantuan senjata AS yang memungkinkan pemberontak melindungi wilayah yang mereka duduki di Suriah.

Dalam beberapa bulan terakhir Amerika Serikat telah bekerja serius untuk mengkoordinir bantuan negara-negara pendukung pemberontakan di Suriah. Kesepakatan baru pun telah disetujui untuk menggelontorkan bantuan sembari menghindarkan senjata-senjata canggih yang diberikan jatuh ke tangan para ekstrimis al Qaeda dan sekutu-sekutunya.

Amerika juga telah berusaha keras untuk menyatukan faksi-faksi yang terpecah belah di kalangan pemberontak, di tengah upaya Jarba mengkonsolidasikan kekuasaannya di mata internasional. Namun, dengan semua perhatian Amerika yang begitu besar, perubahan di medan tempur tidak juga terjadi dan bahkan cenderung merugikan pemberontak dalam beberapa bulan terakhir.

“Menurut saya tidak ada satu isu yang begitu rumit selain Suriah,” kata seorang pejabat senior Amerika yang tidak bersedia disebut namanya kepada Washington Post, terkait rencana kunjungan Jarba.

“Ini adalah situasi yang sangat serius. Namun sayangnya, kecenderungannya tidak menguntungkan. Ini sangat membuat frustrasi,” tambah pejabat tersebut.

Dalam bulan-bulan terakhir ini militer Suriah dengan senjata-senjata berat bantuan Rusia dan Iran telah meluluh-lantakkan posisi-posisi pemberontak. Hari Senin (5/5) media Rusia Kommersant melaporkan bahwa 9 pesawat tempur Yakovlev Yak-130 Rusia yang dibeli dengan kontrak senilai $550 juta untuk pembelian 36 pesawat, akan dikirimkan ke Suriah tahun ini.

Dan saat pertempuran terus berlangsung, AS dan sekutu-sekutunya berusaha menyatukan kepemimpinan pemberontak untuk bernegosiasi dengan rezim Suriah bagi pembentukan pemerintahan peralihan sekaligus pengunduran diri Presiden Bashar al Assad, satu upaya yang sejauh ini gagal total. Pencalonan Bashar dalam pilpres mendatang, dan berdasarkan prediksi banyak pihak bakal dimenangkannya, membuat AS dan pemberontak semakin terpojok dan tidak ada alasan lain kecuali menolak pemilihan umum bulan depan.

Di sisi lain, menyatukan pemberontak dalam satu komando, juga hanya bisa menjadi utopia belaka atau bahkan lebih buruk lagi, ketika pertikaian antara pemberontak telah mencapai tahap paling destruktif.

Najib Ghadbian, utusan tetap pemberontak di AS, mengatakan bahwa pihaknya berharap Amerika akan mengubah secara signifikan dukungannya kepada pemberontak, selama pertemuan delegasi pemberontak Suriah dengan Presiden Barack Obama dan penasihat keamanan Susan E. Rice. Jarba juga dijadwalkan akan bertemu Menlu John F. Kerry dan para anggota Congress.

“Kami berharap AS akan menggunakan kesempatan pertemuan ini untuk mengumumkan perubahan kebijakan di bidang militer, kemanusiaan dan politik,” kata Nakib. Menurutnya, sikap AS dengan meningkatkan status kantor perwakilan pemberontak merupakan indikasi harapan tersebut bakal terwujud.

Namun bantuan senjata masih menjadi permasalahan serius para pemberontak meski Amerika telah meningkatkan dukungannya berupa pelatihan perang dan pengiriman senjata-senjata ringan. Roket-roket anti-tank TOW juga telah dikirimkan kepada kelompok-kelompok pemberontak yang “moderat”.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL