us troop afghanistanKabul, LiputanIslam — Amerika akan mempertahkan pasukannya di Afghanistan hingga 2024 sebagai bagian dari rencana strategis global Amerika. Seorang analis politik menyatakan hal itu terkait laporan media terkemuka Amerika The Wall Street Journal baru-baru ini tentang ide Amerika untuk mengabaikan ketetapan Presiden Hamid Karzai untuk tidak menandatangani perjanjian keamanan Afghanistan-Amerika.

“Keinginan Amerika adalah tetap berada di Afghanistan setidaknya selama 10 tahun setelah 2014 (jadwal penarikan pasukan Amerika),” kata Brian Becker dari lembaga kajian ANSWER Coalition kepada Press TV, Selasa (11/2).

Menurut Brian, Washington ingin tetap berada di Afghanistan sama sekali bukan untuk melindungi kepentingan negeri tersebut, melainkan untuk menjaga kepentingan global Amerika di kawasan yang strategis.

Sebagaimana laporan The Wall Street Journal yang mengutip pernyataan seorang pejabat senior Amerika, Amerika kemungkinan akan menunggu Presiden Karzai selesai masa tugasnya tahun ini sebelum mengajukan kembali pakta kerjasama keamanan Afghanistan-Amerika yang akan memberikan hak tinggal bagi sebagian besar pasukan Amerika setelah selesai mandatnya tahun ini.

“Jika ia (Karzai) tidak mau menjadi bagian dari pemecahan masalah, kita harus mencari jalan untuk membiarkannya lewat,” kata pejabat yang tidak disebutkan identitasnya kepada The Wall Street Journal.

Menurut Brian Becker sendiri, Hamid Karzai merupakan sosok yang paradoksial. Ia didudukkan ke kursi kepresidenan oleh Amerika. Namun setelah melihat rakyat menentang pendudukan asing, ia ingin meninggalkan legasi yang baik dengan menolak keberadaan pasukan Amerika setelah tahun 2014.

Upaya Penyuapan Amerika

Sementara itu analis politik William Beeman mengatakan bahwa Amerika tengah berupaya untuk menyuap Hamid Karzai dalam bentuk paket bantuan besar-besaran, agar yang bersangkutan lunak hatinya dan menyetujui perjanjian keamanan Afghanistan-Amerika.

“Keputusan untuk menyediakan lebih banyak uang atau bantuan merupakan upaya untuk menyuap pemerintahan Karzai untuk mengakomodasi kepentingan Amerika di Afghanistan,” kata Beeman, profesor anthropologi di University of Minnesota, kepada Press TV, hari Senin (10/2).

Sebagaimana diketahui, pada hari Senin (10/2) Amerika mengumumkan rencana bantuan senilai $300 juta kepada Afghanistan. Di bawah inisiatif US Agency for International Development (USAID), $125 juta akan diberikan untuk membangun sektor pertanian, $77 juta untuk mempromosikan Afghanistan di kalangan investor internasional dan $100 juta akan dialokasikan untuk sektor pendidikan.(ca/press tv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL