saudi-israelLiputanIslam.com — “Selama satu dekade terakhir, Israel dan Saudi telah membangun aliansi yang sangat kuat, sebuah aliansi yang dijalankan sebagian besarnya di balik layar. Mereka mengkombinasikan kekuatan-kekuatan mereka untuk menciptakan apa yang disebut sebagai superpower baru di Timur Tengah, sesuatu yang bisa menggunakan kekuatannya melalui manipulasi para politisi AS dan para pembentuk opini publik (media massa), dan pada akhirnya dengan kekuatan militer AS.”

Demikian kesimpulan sebuah artikel di Consortiumnews.com berjudul “Deciphering the Mideast Chaos” tanggal 30 Maret lalu, atau setelah Saudi Arabia dan koalisi yang dipimpinnya, termasuk dengan dukungan AS dan Isael, menyerang Yaman.

Israel tidak bisa terbantahkan memiliki kekuatan politik yang luar biasa besar di AS. Baik melalui para politisi AS yang setiap tahun berbondong-bondong datang ke Israel agar mendapatkan cap sebagai ‘pendukung Israel’ dan karier politiknya menjadi lancar, melalui media-media massa ‘utama’ yang tidak pernah meninggalkan kepentingan Israel, lembaga-lembaga kajian strategis yang terus menyuarakan invasi militer terhadap negara-negara musuh Israel, dan terlebih lagi adalah melalui para pemilik modal yang didominasi orang-orang yahudi.

Di sisi lain, Saudi Arabia merupakan salah satu negara yang paling berpengaruh di kawasan Timur Tengah, terutama karena kekuatan uangnya serta statusnya sebagai ‘penjaga tanah suci’. Tidak mengherankan jika ia dengan cepat mampu menghimpun koalisi negara-negara Arab untuk melakukan intervensi militer di Yaman.

Jika kedua kekuatan itu digabungkan, maka tentu saja akan lahir sebuah ‘superpower’ yang menggabungkan sekaligus kekuatan Amerika dengan kekuatan koalisi negara-negara Arab, plus kekuatan militer Israel. Suatu kekuatan yang tidak pernah terbayangkan bisa terbentuk 20 tahun yang lalu, ketika Israel dan AS masih dipandang sebagai musuh bersama bangsa-bangsa Arab.

Tercermin jelas dari kekuatan gabungan Saudi-Israel itu adalah serangan koalisi pimpinan Amerika terhadap negara Arab Irak tahun 2003. Karena dianggap sebagai ancaman bagi Israel setelah dituduh memiliki ‘senjata pemusnah massal’, Irak dikeroyok oleh AS dan sesama negara Arab sendiri.

Menceminkan hal yang sama, blok Saudi-Israel juga telah menyerang Suriah pada tahun 2011 dan terus-menerus menyerukan serangan terhadap Iran. Tokoh-tokoh ‘intelektual’ neokonservatif seperti John Bolton, Joshua Muravchik, Bill Kristoff dan sebagainya yang dekat dengan kelompok garis keras Israel, tanpa henti menulis di halaman media-media utama AS seperti New York Times dan Washington Post tentang perlunya AS membom Iran.

Bahkan ketika terbukti bahwa orang-orang yang dikirim ke Suriah untuk menumbangkan regim Bashar al Assad yang sangat anti-Israel, adalah para teroris yang memenggali leher warga Arab dan Amerika sendiri, tidak ada perubahan kebijakan AS di Suriah untuk menghentikan aksi-aksi keji para teroris tersebut. Sebaliknya AS dengan didorong oleh blok Saudi-Israel memperluas wilayah operasi para teroris itu hingga ke Irak.

Aliansi Saudi-Israel terbentuk jelas bukan karena idiologi. Israel yang Yahudi dan Saudi yang Wahhabi bukanlah idiologi yang sama. Mereka membentuk aliansi karena melihat adanya musuh yang sama, dan itu tidak lain adalah Iran. Seperti kata seorang filsuf perang pada masa lalu: “tujuan yang sama akan memecah belah, namun musuh yang sama akan menyatukan”.

Bagi Saudi, Israellah yang ‘konsisten’ memusuhi Iran, dan karenanya lebih bisa dipercaya, dibandingkan Amerika sekalipun. Buktinya Amerika kini justru terlibat perundingan nuklir dengan Iran, hal yang tidak diinginkan Saudi dan Israel.

Maka, ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada tanggal 3 Maret lalu berpidato di depan Congress Amerika mengecam Iran, pemimpin redaksi Al Arabiya English yang merupakan media corong regim Saudi Arabia, Faisal Abbas, mengatakan:

“Sangat sulit bagi orang-orang yang berfikir untuk setuju dengan apapun yang dikatakan ataupun dilakukan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu…. namun semua orang harus mengakui bahwa kali ini Bibi (Netanyahu) benar, ketika berurusan dengan Iran.”

Saking kuatnya aliansi Israel-Saudi itu dalam mempengaruhi kebijakan luar negeri AS, sebagian pengamat menyatakan pesimisnya bahwa Presiden AS Barack Obama akan benar-benar mengimplementasikan niatnya untuk berdamai dengan Iran, terkait dengan program nuklir Iran.

Hal ini pun difahami benar oleh pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, sehingga beliau tidak terlalu optimis dengan perundingan tentang program nuklir Iran. Dalam pidato yang disiarkan televisi hari Kamis (9/4), Ayatollah Khamenei mengatakan:

“Saya tidak mendukung ataupun menentang kesepakatan. Saya tidak pernah optimis dengan perundingan dengan Amerika. Meski demikian saya setuju dengan negosiasi-negosiasi.”

Maka tidak heran bila, bahkan dalam kesepakatan ‘kerangka kerja’ perjanjian nuklir Iran yang telah disekapati, Iran dan AS telah berbeda pendapat secara tajam dan mendasar. Iran berpendapat jika semua sanksi yang diterapkan terhadap Iran harus dicabut pada saat perjanjian akhir yang komprehensif tentang program nuklir Iran ditandatangani sebelum 1 Juli mendatang. Sedangkan AS, dengan tegas mengatakan bahwa pencabutan itu akan dilakukan bertahap, sesuai dengan implementasi perjanjian itu, yang bisa berlangsung bertahun-tahun.

Maka kemenangan bagi para pecinta perdamaian di Timur Tengah pun tampaknya belum akan tiba dalam waktu dekat. Apalagi Saudi dan koalisi yang dipimpinnya, yang juga didukung Israel dan AS, telah menunjukkan ketidak relaannya melihat kemenangan Iran di meja perundingan, dengan menyerang Yaman.

Dan pada saat yang sama genderang perang kembali gencar ditabuh oleh para politisi pendukung Israel di AS. Ketika perundingan nuklir Iran tengah berjalan di Swiss bulan lalu, Menhan AS Ashley Carter mengatakan bahwa AS tetap tidak akan menutup kemungkinan untu membom Iran meski Iran dan AS telah menandatangani perjanjian.

Sementara, dalam seminggu ini, secara tiba-tiba media-media massa AS gencar memberitakan pernyataan Senator Tom Cotton, yang dalam wawancara dengan program ‘Family Research Council’s Washington Watch’ tanggal 7 April lalu mengatakan bahwa operasi militer terhadap Iran oleh AS, tidak akan berbeda jauh dengan operasi militer Desert Fox tahun 1998 terhadap Irak.

Sangat jelas, pernyataan ini adalah untuk memprovokasi pemerintah AS melancarkan serangan ke Iran. Sama seperti saat media-media dan politisi memprovokasi pemerintahan Presiden George W Bush untuk menyerang Irak tahun 2003.

Kedua-duanya sama-sama dipenuhi dengan kebohongan. Jika dalam kasus Irak media massa menggembar-gemborkan isyu senjata massal Irak, maka dalam kasus Iran media massa menggembar-gemborkan kekuatan militer Iran yang lemah.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL