foto: al-mustaqbal.net

foto: al-mustaqbal.net

Jakarta, LiputanIslam.com — Acara tabligh akbar yang rencananya digelar kelompok pendukung teroris transnasional Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) hari ini, 11 Januari 2015 di Semarang, akhirnya dibatalkan. Hal ini disampaikan oleh juru bicara kepolisian Kombes Agus Rianto. (Baca: Pendukung ISIS Akan Gelar Tabligh Akbar di Semarang)

“Ya, ada kelompok yang mensosialisasikan tabligh akbar dan menyebarkan undangan yang menggambarkan keterkaitan dengan ISIS, tapi kami telah bertemu dengan mereka dan mereka telah sepakat untuk membatalkannya,” kata Agus di Mabes Polri di Jakarta Selatan, seperti dilansir thejakartapost.com, 10 Januari 2015.

Seperti diketahui, poster undangan tersebut pertama kali disebarkan oleh al-mustaqbal.net, situs pendukung paham radikal di Indonesia. Mereka mengundang masyarakat untuk menghadiri acara yang bertajuk ‘Membela Khilafah yang Difitnah’.

Walikota Hendrar Prihardi langsung bereaksi ketika mengetahui rencana tersebut, dan ia berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Meski demikian, ia meminta masyarakat untuk tenang. (Baca: ISIS Hendak Gelar Tabligh Akbar, ini Tanggapan Walikota Semarang)

Lalu Gubernur Jawa Tengah, Ginanjar juga mengeluarkan pernyataan tegas, ia tidak mengizinkan acara itu diadakan di Semarang. (Baca: Gubernur Jateng Larang Tablih Akbar ISIS)

Kendati acara ini sudah berhasil dicegah, namun pakar terorisme meminta pemerintah tetap waspada, agar jangan sampai acara serupa terselenggara di kemudian hari.

Peneliti dari Institut Pembangunan Perdamaian Internasional, Noor Huda Ismail menyatakan, pihak kepolisian harus menutup izin bagi acara-acara serua, ataupun segala bentuk kegiatan yang mencurigakan dari Jamaah Ansharut Tauhid (JAT).

“Pendukung ISIS menyelenggarakan acara di masjid-masjid pada umumnya, mereka mungkin tidak akan menyatakan dukungan (berbai’at) secara terbuka. Namun, akhirnya banyak kaum Muslimin yang akhirnya bergabung dengan ISIS setelah menghadiri acara-acara seperti itu,” jelasnya.

Selain itu, tambah dia, meskipun pihak kepolisian tidak bisa menangkap orang-orang yang telah berbaiat kepada ISIS, namun aparat bisa melakukan pengawasan terhadap masing-masing individu.

Badan Penanggulangan Terorisme Nasional (BNPT) telah melaporkan bahwa lebih dari 500 orang Indonesia telah bergabung dengan ISIS dan bertempur di Suriah dan Irak.

Sementara itu, pakar terorisme Al Chaidar mengatakan, gerakan garis keras aktif di Semarang dan Yogyakarta, dan banyak anak muda tertarik untuk bergabung dengan gerakan jihad.

“Masyarakat diberikan informasi bahwa jihad adalah satu-satunya cara bagi umat Islam untuk masuk surga tanpa harus melalui hari kiamat. Ini semua didasarkan pada rasa takut pada kiamat,” katanya.

Komnas HAM: ISIS Bukan Ancaman Negara

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyatakan bahwa ISIS bukanlah ancaman bagi negara. Wakil Ketua Komnas HAM Siane Indriani menyatakan bahwa pemerintah harus lebih peduli lagi dengan kesenjangan sosial di tanah air, karena kemiskinan dinilai bisa mendorong para pemuda untuk bergabung dengan kelompok radikal. (Baca: WNI Calon Anggota ISIS, Ingin Gaji Besar)

“Meski demikian, untuk menghadapi kelompok radikal, pemerintah juga harus mengambil tindakan tegas,” jelasnya.

“Tegakkan hukum pada kelompok radikal, karena jika ditunda itu sama artinya dengan memberikan peluang bagi kelompok-kelompok radikal,” tambah dia. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*