pasukan rusiaMoskow, LiputanIslam.com — Alexander Dugin, seorang filsuf ultra-nasisonalis Rusia yang sangat berpengaruh menyebutkan bahwa perang antara Rusia dengan Ukraina tidak akan terhindarkan. Ia pun mendesak Presiden Vladimir Putin untuk melakukan campur tangan di Ukraina demi menyelamatkan “otoritas moral Rusia”.

Hal tersebut disampaikan Dugin dalam wawancara dengan BBC News, Kamis petang (10/7).

Alexander Dugin adalah pendiri Gerakan Eurasian yang mendukung peran sentral Rusia dalam konstelasi global melawan dominasi AS dan sekutu-sekutunya. Menjadi bintang tamu dalam berbagai acara diskusi televisi dan profesor di Moscow State University, pandangan-pandangannya dihormati oleh kalangan nasionalis Rusia, termasuk Putin.

“Orang-orang liberal menentang Putin, namun para patriot mendukungnya, namun hanya jika ia meneruskan kebijakan patriotiknya. Jika ia ragu-ragu, ia akan kehilangan dukungan dari kedua pihak. Ini adalah permainan yang berbahaya, tapi semoga ia memiliki solusi,” kata Dugin.

Untuk itu, menurut Dugin, Putin harus melakukan intervensi militer di Ukraina Timur yang rakyatnya berulangkali menyerukan kata yang sering diucapkan Putin, yaitu Novorossiya (Rusia baru).

Dugin percaya bahwa “semangat Rusia” telah muncul kembali oleh perjuangan separatisme di Ukraina timur, hal yang ia sebut sebagai “Musim Semi Rusia”, sebagai padanan dengan “Musim Semi Arab”.

Menurut Dugin, saat ini Putin tengah dilanda kebingungan oleh 2 pemikiran utama di Rusia, yaitu sisi patriotisme dan sisi liberalisme. Yang pertama didukung sebagian besar rakyat Rusia termasuk kalangan militer dan Gereja Orthodok, sedangkan sisi liberal berasal dari elit penguasa di sekeliling Putin sendiri yang dipimpin perdana menteri Medvedev, serta kalangan pengusaha.

Ketika terjadi perang di Ossetia Selatan, Georgia tahun 2008, Dugin adalah salah satu tokoh yang mendorong Putin untuk bertindak tegas melakukan intervensi. Tidak hanya itu, ia juga mendesak Putin, yang saat itu adalah perdana menteri Rusia, untuk menganeksasi Georgia dan Krimea sekaligus.

Sebagaimana diketahui, dalam perang tahun 2008 itu Rusia berhasil mengusir pasukan Georgia dari Ossetia Selatan, dan nyaris menduduki ibukota Georgia Tbilisi. Namun mendadak Rusia menghentikan serangan dan menarik pasukannya kembli ke Ossetia Selatan.

Meski saat itu ide tersebut dianggap terlalu ekstrim, namun saat ini tidak lagi, terutama setelah keberhasilan Rusia menganeksasi Krimea. Demikian pendapat Dugin.

Dugin pun menyebutkan hasil jajak pendapat Levada Centre tentang sikap warga Rusia terhadap Putin, yang menunjukkan 86% warga Rusia mendukung Putin. Jajak pendapat yang sama menunjukkan 2/3 warga Rusia mendukung gerakan separatisme di Ukraina timur dan mayoritas mendukung campur tangan Rusia di Ukraina.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL