Washington, LiputanIslam.com—Mantan Wakil Presiden AS, Al Gore, menyatakan kekecewaanya terhadap sikap pemerintah AS terkait isu perubahan iklim.

Dalam sebuah wawancara di televisi pada Senin (17/7/17), Al Gore menceritakan pertemuannya dengan Trump untuk mendiskusikan perjanjian iklim Paris, di mana presiden dari Partai Republik itu berjanji untuk keluar dari perjanjian tersebut.

“Saya pergi ke Trump Tower setelah pemilu,” katanya. “Saya pikir akan ada kesempatan agar dia berubah pikiran. Tapi saya salah.”

Al Gore menyatakan kekhawatirannya bahwa keputusan Trump untuk keluar dari perjanjian itu akan berdampak buruk.

Perjanjian Iklim Paris diikuti oleh 195 negara di Paris, Prancis, dan telah berlaku sejak 4 November 2016.

Perjanjian ini mencoba membatasi pemanasan global tak lebih dari 2 derajat Celsius (3,6 derajat Fahrenheit) di atas temperatur industri pada tahun 2050. Tujuan akhirnya adalah mencapai 1,5 derajat Celsius sebisa mungkin.

Trump menolak isu perubahan iklim ini, dengan menyebutnya “hoax” oleh Cina. Selama kampanye presiden 2016, ia berjanji untuk menggagalkan perjanjian Paris dalam  100 hari kepemimpinannya dalam rangka menyelamatkan perusahaan minyak dan batu bara AS yang mendanai kampanyenya.

Keputusan ini membuat AS berada bersama Nikaragua dan Suriah sebagai negara yang tidak berpartisipasi dalam pernjanjian Paris. Padahal, AS adalah produsen emisi gas rumah kaca terbesar setelah Cina. (ra/presstv)

 

 

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL