Washington, LiputanIslam.com–Pemilihan Donald Trump sebagai presiden AS telah membuat kejahatan kebencian dan diskriminasi bangkit kembali di Amerika.

Hal itu dinyatakan oleh aktivis asal Amerika, Margaret Kimberley dari Black Agenda Report, dalam wawancara kepada Press TV pada Minggu (1/10/17).

“Dia [Trump] telah membuat rasisme bangkit kembali. Jadi, orang rasis yang dulunya terbiasa menyembunyikan pikiran dan perasaan mereka, kini merasa berani [memperlihatkan rasisme]. Itulah salah satu hasil terbesar dari pemilihan [Trump],” kata.

Kimberly kemudian mengkritik Trump yang mengubah Amerika yang sejak dulu memang adalah negara rasis, menjadi semakin parah di masa pemerintahannya.

Sementara itu, aktivis lain bernama Myles Hoenig, menilai bahwa Trump telah menggunakan rasisme sebagai “prinsip panduan untuk memerintah dan melakukan pernyataan publik,”

Hoenig yang seorang mantan kandidat Kongres dari Green Party, menyatakan hal tersebut ketika membicarakan rating penerimaan masyarakat AS atas Trump dan Partai Republik.

Dalam polling CNN, kurang dari 3 dari 10 warga Amerika tidak menyukai Partai Republik.

Polling lain juga memperlihatkan bahwa mayoritas warga menolak kepemimpinan Trump yang bergaya memecah-belah.

Sementara itu, 66% warga menilai Trump lebih bisa memecah belah negara dibandingkan menyatukannya, demikian hasil survei dari ABC/Washington Post yang dirilis pada Minggu lalu. (ra/presstv)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL