bandara acapulcoAcapulco, LiputanIslam.com — Aksi-aksi protes atas keterlibatan aparat pemerintah dalam penculikan 43 pelajar di Mexico semakin meluas. Demonstran menduduki bandara Acapulco, sementara tuntutan mundur terhadap Presiden Nieto juga semakin nyaring terdengar.

Sebagaimana dilaporkan BBC News, ribuan warga memblokir akses menuju bandara Acapulco, Senin (10/11) dan terlibat bentrokan dengan aparat kepolisian selama 3 jam lebih. Polisi menyebut sebanyak 20 anggotanya mengalami luka-luka dalam bentrokan itu.

Acapulco adalah kota wisata terbesar di Mexico yang terletak di tepi Samudra Pasifik.

Demonstan juga menyerukan pengunduran Presiden Enrique Pena Nieto yang dianggap gagal memimpin pencarian terhadap 43 pelajar yang hilang. Mereka menuliskan kalimat-kalimat berisi kecaman terhadap Nieto di dinding bandara Acapulco.

“Nieto pembunuh!” Demikian salah satu bunyi tulisan di dinding bandara Acapulco.

“Nieto, tinggallah di Cina!” Tulisan lainnya, merujuk pada keberadaan Nieto di Cina mengikuti KTT APEC. Keluarga para pelajar menganggap Nieto lebih mementingkan urusan luar negeri dibandingkan nasib 43 pelajar yang hilang dan keluarganya yang kehilangan.

Sebelum ini, demonstran telah membakar pintu gerbang Istana Kepresidenan sebagai bentuk protes terhadap kepemimpinan Nieto dalam menangani krisis akibat penculikan para pelajar.

Pada hari Jumat (7/11), Jaksa Agung Jesus Murillo Karam mengumumkan bahwa ke 43 pelajar yang hilang dinyatakan tewas.

Berdasarkan pengakuan anggota gangster Guerrero Unidos yang mengaku telah mengeksekusi para pelajar itu, para pelajar itu diserahkan oleh polisi Iguala pada tanggal 26 September lalu. Sebagian telah meninggal saat diserahkan polisi dan sisanya mereka tembak mati sebelum jenasahnya dibakar di tempat pembuangan sampah. Terakhir, sisa jenasah yang telah hangus dibuang ke sungai.

Polisi kini tengah mengidentifikasi beberapa jenasah yang ditemukan di pinggir sebuah sungai yang diduga adalah jenasah para pelajar yang hilang. Namun Jesus Murillo mengakui, proses identifikasi para korban tersebut akan sangat sulit karena jasad yang hangus dan hancur.

Sebanyak 43 pelajar sebuah sekolah keguruan di dekat kota Iguala menghilang pada tanggal 26 September lalu setelah ditangkap polisi setelah melakukan aksi demonstrasi. Jaksa Agung menyebutkan, mereka ditangkap atas perintah Walikota Iguala yang jengkel pada tindakan para pelajar yang telah mengganggu acara yang digelar oleh istri walikota.

Walikota dan polisi yang memiliki hubungan dengan kelompok kriminal lokal Guerreros Unidos, kemudian menyerahkan para pelajar itu kepada anggota gangster.

Polisi telah menangkap Walikota Iguala, Jose Luis Abarca, beserta istrinya. Polisi juga menahan lebih dari 60 polisi dan anggota gangster Guerreros Unidos. Sementara Gubernur Provinsi Guerrero Angel Aguirre mengundurkan diri karena peristiwa tragis ini.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL