polisi uighurUrumqi, LiputanIslam.com — Aksi kekerasan kembali menelan puluhan korban jiwa di provinsi yang mayoritas warganyanya Muslim Cina, Xinjiang. 50 orang dinyatakan tewas akibat aksi kekerasan yang terjadi hari Minggu (21/9) di kota kecil Luntai.

Sebagaimana dilaporkan BBC News dengan mengutip keterangan media milik pemerintah, Jumat (26/9), sebanyak 40 “perusuh”, 6 warga sipil dan 4 polisi tewas dalam kerusuhan di Luntai yang disebut media pemerintah sebagai “serangan teroris yang serius”.

Sebelumnya media-media Cina melaporkan jumlah korban hanya 2 orang, namun pada hari Kamis (25/9) angkanya melonjak menjadi 50 orang.

Situs berita pemerintah Xinjiang Tianshan, melaporkan aksi kekerasan diawali oleh ledakan bom di 2 pos polisi, sebuah pasar terbuka dan sebuah toko.

Tianshan menyebut sebagian “perusuh” tewas oleh ledakan bunuh diri dan sebagian lainnya tewas ditembak polisi. 54 warga sipil luka-luka dalam aksi tersebut sementara 2 orang perusuh berhasil ditangkap hidup-hidup.

Orang-orang Muslim Uighur adalah warga keturunan Turki yang meliputi 45% dari seluruh penduduk Provinsi Xinjiang. Etnis Han yang dikirim besar-besaran oleh penguasai komunis Cina ke provinsi itu menyusul jatuhnya provinsi itu ke tangan Cina, menjadi etnis terbesar kedua dengan jumlah 40%. Sejak itu ketegangan etnis menjadi masalah laten di provinsi tersebut dimana warga Uighur merasa ditindas oleh regim komunis Cina.

Dalam kasus kekerasan terakhir ini Tianshan menyebut tersangka utamanya adalah Mamat Tursun, yang disebut-sebut telah aktif menjadi ekstremis sejak tahun 2003.

Mendapatkan informasi yang berimbang sangatlah sulit di Cina, terutama di Provinsi Xinjiang yang cukup terpencil disertai adanya kontrol aparat keamanan yang sangat kuat. Setiap terjadi aksi kekerasn, pemerintah selalu menyalahkannya kepada kelompok-kelompok militan Uighur.

Selama beberapa bulan terakhir telah terjadi sejumlah aksi kekeradan yang menelan nyawa puluhan korban sipil di Xinjiang, terutama di kota-kota besarnya seperti Kunming dan Urumqi.

Pada bulan Juli lalu sebuah aksi kekerasan menewaskan 96 orang di Yarkant. Media-media Cina menyebut peristiwa itu sebagai “serangan teroris”, namun para aktifis menuduh polisi bertindak brutal terhadap aksi demonstrasi damai yang dilakukan warga atas tindakan pemerintah yang melarang ibadah puasa.

Insiden terakhir terjadi ketika pemerintah Cina menahan Ilham Tohti, tokoh akademisi moderat Uighur yang mengkampanyekan dialog antara pemerintah dengan aktifis Uighur. Tohti ditahan atas tuduhan tindakan separatisme. Penahanan ini mengundang reaksi keras dari AS dan negara-negara barat.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL