foto: Merdeka.com

foto: Merdeka.com

Bangil, LiputanIslam.com–Ratusan massa menggeruduk peringatan hari kelahiran (milad) putri Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah Az-Zahra yang diselenggarakan sebuah LSM bernama Islamic Women Center (IWOC) di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, Jumat (1/4).  Meskipun panitia acara telah mendapatkan izin dari aparat pemerintah, massa penggeruduk yang dipimpin Ustaz Nazir, Anggota DPRD PKS Kabupaten Pasuruan itu tetap menuntut agar acara dibubarkan.

Seperti dilaporkan merdeka.com, Nazir membawa massa sebanyak seratusan orang. Mereka mendekati lokasi acara dan meminta agar peringatan Haul Sayyidah Fatimah dibubarkan. Tuduhan yang dikemukakan oleh massa intoleran adalah acara tersebut bermuatan Syiah.

“Mereka keberatan dengan acara yang di dalamnya membaca doa-doa nabi, tawasul, tahlilan. Atas kerja sama kami sebagai warga negara yang baik, kami diminta pihak keamanan untuk mempersingkat waktu. Waktu kami persingkat,” jelas Abdul Rahman, perwakilan panitia.

Kontras Mengkritik Pemerintah

Komisi Untuk Orang Hilang Dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Surabaya, melalui Koordinator Bidang Pekerja, Fatkhul Khoir Fatkhul mengkritik aparat keamanan yang tidak memberikan perlindungan kepada warga dalam melaksanakan acara sesuai keyakinan mereka. Kontras meminta agar Kepala Polri dan Menteri Dalam Negeri memberikan sanksi tegas kepada polisi dan aparat pemerintah daerah Pasuruan yang turut aktif dalam membubarkan acara tersebut.

Menurut Fatkhul desakan itu dikarenakan polisi dan pemerintah daerah setempat terkesan membiarkan aksi pembubaran yang dilakukan oleh kelompok intoleran yang mengaku sebagai ormas Aswaja Bangil. Aparat seperti memberikan kesempatakan kepada massa untuk melancarkan intimidasi dan ujaran kebencian kepada peserta kegiatan tersebut. Padahal sebagian besar peserta tersebut adalah ibu-ibu dan anak-anak. Kontras juga mengkritisi keterlibatan anggota DPRD (yaitu Nazir dari PKS) yang terlibat dalam aksi intoleran yang melanggar HAM ini.

Kronologi

Acara Milad Sayyidah Fathimah sedianya digelar di Gedung Diponegoro, Bangil sekitar pukul 08.00 WIB. Sehari sebelum acara, kelompok intoleran mendesak pembatalan acara, demikian pula kepala daerah. Penyelenggara kemudian memindahkan tempat acara di sebuah rumah di kawasan RT 2 RW 11 Kelurahan Kalirejo. Namun, tiba-tiba datang ratusan orang yang mengatasnamakan Ormas Aswaja Bangil.  Akibatnya, acara yang diikuti sebagian besar ibu-ibu dan anak-anak perempuan itu akhirnya berakhir pukul 09.30 WIB. Acara semestinya berlangsung hingga pukul 12.30 WIB.

Saat acara dibubarkan, peserta ritual harus keluar dari lokasi kegiatan dengan melewati kerumunan massa intoleran yang meneriaki mereka dengan perkataan kebencian, pengkafiran, dan sebagainya. (merdeka.com/satuislam.org)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL