demo hongkong4Hongkong, LiputanIslam.com — Ribuan orang tetap duduk-duduk jalanan di Hongkong, mengabaikan tembakan gas air mata dan seruan polisi untuk pergi. Sementara beredar rumor tentara Cina akan turun tangan membubarkan aksi-aksi demonstrasi.

Sebagaimana laporan BBC News, Senin (29/9), ribuan orang masih berada di sekitar kompleks pemerintahan Hongkong. Sebagian demonstran bahkan telah mendirikan barikade.

Tidak hanya itu, di beberapa titik juga muncul aksi-aksi demonstrasi baru. Sekitar 3.000 orang memblokade jalan utama di wilayah Mongkong sementara di distrik perdagangan Causeway Bay ratusan orang berusahan menerobos barisan polisi.

Aksi-aksi demonstrasi tersebut dipicu oleh kemarahan warga atas keputusan Cina membentuk badan penyeleksi kandidat kepala eksekutif (Gubernur) dalam pemilihan tahun 2017 mendatang. Para demonstran menuntut pemilihan yang benar-benar langsung, tanpa campur tangan pemerintah Cina.

Pada Minggu malam (28/9) polisi menyerbu demonstran di luar kompleks pemerintahan Hongkong dengan menembakkan gas air mata dan penyemprot cabai setelah mengingatkan bahwa aksi demonstrasi tersebut adalah ilegal. Namun demonstran tetap bertahan.

Sementara itu Kepala Eksekutif Hongkong CY Leung membantah rumor tentang kemungkinan tentara Cina campur tangan untuk membubarkan aksi-aksi demonstrasi.

“Saya harap warga tetap tenang. Jangan terpengaruh oleh rumor dan desas-desus,” kata Leung kepada pers.

“Polisi akan berusaha menjaga tata tertib, termasuk memastikan kelancaran lalu-lintas dan keamanan publik,” tambahnya.

Menjelang hari sibuk, Senin (29/9), polisi menyerukan kepada para demonstran untuk tenang, tidak menerobos barisan polisi serta menghentikan pendudukan atas jalan-jalan utama. Sementara itu otoritas pendidikan Hongkong mengumumkan penutupan sekolah-sekolah di kawasan Wan Chai, Central dan distrik-distrik Barat.

Di sisi lain polisi telah memindahkan 200 rute bus kota, atau menutupnya sama sekali. Sementara beberapa pintu keluar jalur kereta bawah tanah juga telah diblokir.

Polisi mengumumkan telah menangkap 78 demonstran pada hari Minggu, menyusul penangkapan 70 demonstran lainnya sehari sebelumnya.

Sejauh ini polisi telah menggunakan pentungan, gas air mata hingga penyemprot cabai untuk membubarkan demonstran. Para pemimpin demonstran telah menginstruksikan para demonstran untuk mundur jika polisi mulai menggunakan peluru karet.

“Ini masalah hidup dan mati. Jika nyawa mereka (demonstran) terancam, maka mereka haru mundur dan menyelamatkan diri,” kata Chan Kin-man, salah seorang pendiri kelompok aktifis Occupy Central yang menjadi tulang punggung gerakan oposisi Hongkong menentang dominasi pemeritah pusat di Beijing.

Kelompok Occupy Central merencanakan akan menggelar aksi demonstrasi lebih besar mulai tanggal 1 Oktober mendatang. Dalam pernyataan yang dikeluarkan hari Senin, kelompok ini mendesak Kepala Eksekutif Leung untuk mundur dari jabatannya.

“Hanya dengan pengundurannya, dimungkinkan dilakukannya kampanye reformasi politik dan menciptakan ruang dimana krisis bisa diakhiri,” demikian pernyataan Occupy Central.

Sementara itu pemerintah Cina, yang memiliki garnisun militer di Hongkong menyatakan keyakinannya bahwa pemerintahan sipil Hongkong bisa mengatasi krisis ini dengan baik.

Jubir kantor urusan Hongkong dan Makau di Beijing mengatakan bahwa “pemerintah dengan tegas menentang aktifitas-aktifitas ilegal yang bisa merusak tatanan hukum dan mengganggu ketenangan publik serta menawarkan dukungan kuat kepada pemerintah Hongkong,” demikian keterangan resmi tersebut menyebutkan sebagaimana dilaporkan kantor berita Xinhua.

Hongkong kembali bergabung dengan Cina pada tahun 1997 setelah berakhirnya “kontrak” kekuasaan Inggris. Sejak itu pemerintah Cina menerapkan kebijakan “satu negara dua sistem” di Hongkong, dimana demokrasi ala-barat seperti aksi-aksi demonstrasi dan kebebasan berpendapat, tetap dipertahankan di Hongkong.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL