krimea referendumSimferopol, LiputanIslam.com – Akhirnya Republik Krimea dan kota Sevastopol menggelar referendum pada Minggu (16/3). Tempat penghitungan suara dibuka di Krimea pukul 8:00 pagi waktu setempat, menandai dimulainya penentuan masa depan republik Krimea dan kota Sevastopol.

Para pemilih di Krimea memilih apakan mereka akan tetap berada dalam wilayah otonomi Ukraina atau bergabung dengan Federasi Rusia. Hasil awal referendum Krimea diumumkan pukul 10.20 waktu setempat atau sekitar pukul 20:20 WIB.

“ Hasil awal referendum akan diumumkan di Nakhimov Square pada pukul 10.20-10.30 waktu setempat,”  ungkap Walikota Sevastopol Dmitry Belik pada wartawan, Minggu(16/3).

“Proses pemungutan suara ini diawasi oleh 1.730 pengamat dan lebih dari 180 perwakilan media dari berbagai negara,” Belik menambahkan.

“Referendum kami setransparan kotak suara kami,” tambahnya lagi sambil menyatakan bahwa Senin, 17 Maret esok, akan menjadi hari libur bagi seluruh Sevastopol dengan alasan warga Sevastopol berhak memperoleh istirahat dan menikmati hasil referendum.

Sebelumnya, pada Sabtu kemarin DK PBB menyelengarakan sidang darurat  atas permintaan Washington dimana didalamnya AS mengajukan resolusi kepada DK PBB untuk menggagalkan referendum hari ini, namun Rusia memveto resolusi dukungan Barat tersebut.

Rancangan resolusi yang menyebut referendum  tidak sah itu semula mendapat dukungan 13 suara dari Dewan Keamanan yang beranggotakan 15 negara..

“Sudah bukan rahasia lagi jika Rusia pasti akan memveto draft resolusi Amerika Serikat,” ujar utusan Rusia untuk PBB Vitaly Churkin selesai pemungutan suara kemarin. Ia menambahkan bahwa Moskow akan menghormati pilihan Krimea.

“Kami tak bisa menerima asumsi tersebut yang ingin menyatakan bahwa referendum pada 16 Maret adalah ilegal, sedangkan penduduk Republik Krimea berhak untuk menentukan masa depan mereka sendiri,” ungkap Churkin menjelaskan keputusan Moskow memveto dokumen yang di ajukan PBB.

Menurut Rusia, resolusi PBB tersebut hanya difokuskan pada dugaan ketidak-absahan referendum di Krimea dan tujuan utamanya adalah  menciptakan suasana ketidakpercayaan dan kepalsuan atas Krimea.

Menurut diplomat Rusia, usulan AS mengenai resolusi PBB tentang situasi di Ukraina adalah tidak berdasar. Dan hal ini hanya dapat dijelaskan oleh “keinginan besar” Amerika  mempolitisasi situasi yang sudah rumit dan terus membangkitkan histeria internasional di  sekitar bekas republik Soviet tersebut, untuk kepentingan-kepentingan geopolitik AS.(lb/thevoiceofrusia/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*