saudi girls

Sumber foto: Syrian Rationalism

Riyadh, LiputanIslam.com — Hidup terkekang selama bertahun-tahun menjadi masyarakat yang terpinggirkan dibawah pemerintahan rezim yang represif dan diktatorial, pendukung hak-hak perempuan Arab Saudi terus memberontak melawan segregasi (pemisahan)  gender dan “perwalian laki-laki secara mutlak.”

Sebuah petisi yang ditandatangani oleh 25 aktivis perempuan Saudi yang  disampaikan awal Maret kepada 150  anggota Saudi Shura Council, sebuah badan penasehat resmi monarki, menyerukan agar “perwalian laki-laki secara mutlak” atas perempuan segera diakhiri  dan menuntut  “tindakan serius untuk melindungi hak-hak perempuan dan menghentikan kekerasan dalam rumah tangga.”

Saat ini semua sembilan juta wanita Saudi, tanpa memandang status ekonomi dan sosial, dilarang belajar, bepergian, bekerja, mengakses lembaga pemerintah, menjalani perawatan medis atau prosedur bedah termasuk melahirkan tanpa persetujuan dari wali laki-laki mereka.

Menurut sejumlah aktivis, pembatasan  pada kebebasan bergerak dan akses untuk hak-hak dasar manusia merupakan  akibat dari aturan ketat diberlakukan, yang ironisnya, aturan ini  menyebabkan kematian sejumlah wanita Saudi yang seharusnya bisa ditolong atau ditangani.

Namun tidak demikian halnya dengan wanita-wanita al-Saud (dari keluarga Dinasti Saud) yang dalam banyak kesempatan bisa kita  jumpai tampil dengan busana terbuka, menyetir, hidup dengan kemewahan yang berlimpah dan mereka bisa melakukan apa saja.

Aktivis rakyat Suriah dijejaring sosial pernah menyindir Arab Saudi yang merupakan sumber dana tak terbatas dari para pemberontak yang kini mengacaukan Suriah atas nama ‘freedom’. Sebuah hal yang aneh, bagaimana mungkin kerajaan monarki yang bahkan melarang warga perempuannya untuk sekedar menyetir, tiba-tiba mengirim ‘freedom fighter’ untuk mengajarkan ‘kebebasan’ pada Suriah? (LiputanIslam.com/syrianrationalism/al-alam/af)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*