Air_AsiaKualalumpur, LiputanIslam.com — AirAsia, salah satu maskapai penerbangan yang paling berkembang di kawasan Asia dan berbasis di Malaysia, melaporkan kerugian pertama sejak 2 tahun lalu.

AirAsia mengaklaim penyebab utama kerugian adalah nilai tukar mata uang internasional serta pajak yang meningkat. Demikian BBC News melaporkan, Jumat (27/2).

Dalam laporan tersebut AirAsia menyebutkan kerugian kuartal terakhir tahun 2014 lalu mencapai 429 juta ringgit atau setara $120 juta. Padahal periode yang sama tahun sebelumnya perusahaan itu mencatat keuntungan 647 juta ringgit.

Pada bulan Desember lalu pesawat AirAsia nomor penerbangan QZ8501 jatuh di Laut Jawa menewaskan 162 penumpang dan awaknya. Sampai saat ini belum diketahui penyebab musibah itu dan siapa yang harus bertanggungjawab.

CEO AirAsia Tony Fernandes, dalam pernyataannya mengatakan bahwa musibah tersebut telah menurunkan minat terbang masyarakat bersama AirAsia, namun tidak terlalu signifikan, terutama pada awal tahun baru 2015 lalu.

“Namun kami melihat adanya pemulihan saat ini,” kata Fernandez.

Fernandez mengatakan bahwa untuk mengatasi permasalahan tersebut selama 2 tahun ke depan, AirAsia tidak akan melakukan banyak ekspansi seperti tahun-tahun sebelumnya.

Pada tahun 2001 Fernandez yang sebelumnya adalah agen penjualan MLM produk Tupperware dan menjadi staff menejemen Virgin Group, kelompok bisnis hiburan dan transportasi yang berbasis di Inggris, membeli AirAsia yang saat itu adalah perusahaan milik pemerintah Malaysia yang terjerat hutang.

Bersama mitra dan anak-anak perusahaannya, AirAsia kini memiliki sekitar 100 rute penerbangan di 15 negara.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL