AdelLiputanIslam.com — Ada sumber-sumber informasi di Kementerian Luar Negeri Iran yang menyakini bahwa perubahan drastis di dalam pemerintahan Arab Saudi hari ini berada dalam kontrol intelejen Amerika Serikat yaitu CIA. Menurut CIA, menjaga stabilitas Saudi adalah kepentingan strategis AS karena dua fakta penting: 1) menjamin ketersediaan minyak maupun energi, 2) jaminan keamanan di kawasan.

Arab Saudi adalah negara anggota OPEC, salah satu dari produsen terbesar minyak dunia. Gangguan terhadap Saudi dapat merusak pasar global minyak. Dalam bidang keamanan, semua orang mengetahui kolaborasi erat antara CIA dan GIP (General Intelligence Presidency), dan berbagai tindakan yang diambil CIA di wilayah tersebut sangat tergantung pada kerjasama dengan Saudi.

Inilah sebabnya mengapa CIA ikut campur dalam transisi kekuasan di Saudi pasca mangkatnya Raja Abdullah. Setelah naiknya Salman menjadi raja, ia pun melakukan serangkaian perubahan sebagaimana yang diprediksi banyak pihak. Misalnya, memilih Adel Al Jubeir sebagai pengganti Saud Al Faisal. Hal ini sangat mengejutkan banyak pihak, mengingat Saud adalah sosok yang dinilai senior dan berpengalaman. Apakah ada campur tangan CIA dalam dengan terpilihnya Adel? Lalu, siapakah Adel yang sebenarnya?

Adel tidak memiliki pengalaman ataupun rekam jejak yang kuat di Kementrian Luar Negeri. Awal tahun 1990, Bandar Bin Sultan, Dubes Saudi untuk AS, memilihnya sebagai staf kedutaan sebagai penerjemah. Namun pamornya melesat dengan cepat, dan ia sangat dekat dengan Bandar. Ia pun naik jabatan sebagai juru bicara kedutaan, lalu ia dipromosikan menjadi perwakilan Saudi di PBB.

Di saat yang sama, Adel menjadi penghubung antara Bandar dengan kartel minyak AS, perusahaan-perusahaan minyak dan lobi Yahudi. Saat Raja Abdullah melakukan kunjungan ke AS, Bandar memperkenalkannya kepada Raja dan memuji kecerdasannya. Karir Adel semakin melesat. Ia diangkat menjadi konsultan kebijakan luar negeri Raja Abdullah, lalu dipromosikan sebagai pejabat setingkat menteri di departeman yang sama. Tahun 2007, ia dipilih sebagai Dubes Saudi untuk AS, dan tahun 2015, ia didapuk menjadi Menteri Luar Negeri Saudi.

Mengapa ini mengejutkan? Adel bukanlah seorang pangeran ataupun sosok yang memiliki sejarah politik maupun diplomatik yang mumpuni. Ia berasal dari keluarga sederhana yang tinggal di desa Harmah di pinggiran kora Al Majma’ah. Ia lahir di sebuah desa yang tidak memiliki saluran listrik maupun air. Ia anak ke-enam, dan ayahnya adalah pegawai Aramco sebelum pindah ke Yaman bersama keluarganya, lalu pindah ke Jerman. Adel menyelesaikan sekolahnya di Jerman, lalu pindah ke AS dan menyelesaikan BA-nya di jurusan politik dan ekonomi sebuah universitas di Texas. Ia kemudian mendapat gelar MA-nya di Univeristas Georgetown, Washington.

Adel dan Sikap Anti-Iran

Tidak ada yang tahu persis sejak kapan dan mengapa Adel memiliki pandangan anti Iran. Tampaknya hubungan dengan lobi Yahudi di AS telah berpengaruh besar dalam membentuk opini anti-Iran-nya. Pertama kali ia secara terbuka berbicara menentang Iran pada 20 November 2007, dalam sebuah jamuan pesta makan malam di Washington ketika ia baru saja dipromosikan sebagai duta. Dalam pertemuannya dengan Kedubes AS untuk Saudi, ia berbicara tentang program nuklir Iran. Ia mengungkapkan sikapnya terhadap Iran seperti membesar-besarkan program nuklir Iran, dan ia juga bilang bahwa telah tiba saatnya bagi dia untuk berdiri melawan Iran.

Dia yakin bahwa Iran adalah biang kerok masalah yang dihadapi oleh AS dan Saudi di kawasan dalam beberapa tahun belakangan. Tak lama setelah itu, bulan April 2008, Wikileaks mengungkapkan dokumen bahwa Raja Abdullah berbicara kepada Ryan Crooker dan Jenderal David Petraeus bahwa Iran tak lebih dari seekor ular yang kepalanya harus dipotong segera. Dalam dokumen-dokumen ini, Adel terungkap memberikan saran kepada Abdullah, agar meminta kepada AS untuk melawan Iran melalui jalur militer dan menghentikan program nuklirnya.

Lalu pada tahun 2011, pada awal meletusnya Arab Spring di Suriah, Adel mengklaim bahwa Iran berusaha membunuhnya. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Eric Holder, mantan Jaksa Agung AS. Tentu saja, keduanya memang merancang sesuatu untuk menjatuhkan Iran. Tidak pernah jelas untuk apa klaim itu disebarkan, dan apa hasil yang didapat, namun banyak pihak yang yakin bahwa tujuannya adalah untuk mengeleminasi Iran dari konflik Suriah. Saudi berpikir bahwa mereka bisa memulai ‘perkelahian’ dengan Iran, sehingga Iran akan menjauh dari konflik Suriah, dan dengan begitu, cita-cita Saudi untuk menggulingkan Assad pun terwujud. Sayang sekali, mereka kecele. Iran tidak terpengaruh dan tetap memainkan peran penting di Suriah.

Banyak yang meyakini bahwa posisi Adel yang sangat strategis saat ini adalah sebuah misi khusus yang telah ditetapkan oleh kekuatan yang sangat besar di belakang layar.

Dalam perang Yaman, menurut media An Nahar yang berbasis di Beirut, Saudi telah merogoh kocek senilai 200 miliar dolar. Saudi juga sengaja menciptakan ketegangan dengan Iran, juga tanpa henti terlibat dalam penindasan ummat manusia di kawasan Timur Tengah hingga kawasan dunia. Semua ini merupakan tanda-tanda bahwa Adel merupakan ‘pion’ yang bertentangan dengan kepentingan nasional Saudi sendiri. Apakah hasil akhir dari situasi ini? Biarlah waktu yang akan menjawab. (ba)

Diterjemahkan dari tulisan Seyyed Ali Mousavi Khalkhali di Vaghaye-e Etefaghiyeh Newspaper

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL