MH370route140319LiputanIslam.com — “Saat ini, melacak keberadaan seseorang atau satu benda adalah sangat mudah. Anda bisa memanggil 911 di tengah-tengah daerah tak bertuan dan satelit-satelit GPS dapat memberitahu dengan tepat keberadaan Anda. Pesawat penumpang memiliki akses terhadap peta-peta yang secara mendetil memberitahu dimana pesawat berada selama penerbangan. Dengan menggunakan WiFi dari setiap sudut dunia,  dan Google bisa mengetahui dimana Anda berada, dari Moscow atau Tokyo. Dengan semua kemampuan ini, bagaimana kita bisa berfikir bahwa pesawat MH370 menghilang begitu saja?”

Demikian tulis Anna Mikhailova, seorang jurnalis di situs berita Voice of Russia tgl 26 Maret 2014 lalu.

Saya (redaktur) jadi ingat tentang teknologi GPS yang saya baca di sebuah media nasional, lebih dari 10 tahun yang lalu. Saat itu teknologi ini telah mampu memetakan satu titik koordinat sebuah obyek dengan sangat tepat karena setiap titik di dunia ini, sekali lagi setiap titik di dunia ini, di-“cover” oleh setidaknya 3 satelit GPS. Tidak ada satu tempat pun yang tidak terdeteksi oleh GPS. Yang dibutuhkan untuk menemukan satu obyek di atas permukaan bumi adalah peralatan yang bisa memancarkan gelombang elektromagnetik, yang dengan kecepatan cahaya ditangkap oleh satelit-satelit GPS di luar angkasa, dan selanjutnya dikirimkan ke pusat pengolahan data untuk menentukan titik koordinat benda tersebut. Semuanya berjalan dalam hitungan seper-puluhan atau bahkan seper-ratusan detik.

Selain GPS, semua pesawat penumpang modern juga terlacak oleh sistem radar navigasi yang berada di atas permukaan bumi. Jadi dalam kasus transporder suatu pesawat yang sengaja dimatikan sebagaimana disebut-sebut dalam penyelidikan pesawat MH370, pesawat tersebut tetap terdeteksi oleh radar-radar di atas permukaan bumi. Maka ketika sebuah pesawat melenceng dari jalur semestinya, saat itu juga radar sudah bisa mengetahuinya.

Dalam kasus pesawat yang melenceng dari jalur penerbangan seharusnya, petugas pengawas penerbangan langsung memberitahukan pilot untuk kembali ke jalur seharusnya. Namun jika ternyata pemberitahuan tersebut tidak mendapat tanggapan, sebagaimana kasus-kasus pembajakan, maka tindakan militer pun dilakukan. Tahap pertama adalah mengirim pesawat pemburu, biasanya pesawat tempur berkecepatan tinggi, yang ditugaskan untuk membimbing pesawat kembali ke jalurnya, atau mendarat di tempat yang aman. Namun jika ternyata pesawat melakukan manuver yang membahayakan yang mengancam keselamatan banyak manusia di daratan, maka pesawat pemburu pun diperintahkan untuk menembak jatuh.

Di kebanyakan negara, menembak jatuh pesawat penumpang yang mengancam keamanan di darat masih menjadi perdebatan hukum. Namun beberapa negara seperti Amerika, Rusia, Jerman dan India telah mengeluarkan undang-undang yang melegalkan tindakan tersebut.

Dalam kasus pesawat MH370 terdapat kejanggalan yang luar biasa besar. Mengapa baru seminggu kemudian otoritas Malaysia menyatakan pesawat tersebut melakukan manuver belok arah ke barat. Padahal semestinya hanya dalam hitungan detik, hal itu sudah bisa dideteksi oleh petugas pengawas penerbangan dengan radarnya.

Selanjutnya, ketika pesawat itu terbang berjam-jam di luar jalur yang semestinya, termasuk melintasi ratusan kilometer Semenanjung Malaya, mengapa tidak ada upaya pencegahan dari angkatan udara Malaysia untuk membimbing pesawat tersebut mendarat?

Hanya ada satu kemungkinan yang bisa menjelaskan hal itu, yaitu radar-radar Malaysia, dan juga radar Indonesia, karena pesawat tersebut juga terbang di atas wilayah Indonesia, mengalami kerusakan total.

Namun sayangnya hal itu pun tidak pernah diungkapkan oleh otoritas Malaysia, sehingga keluarga korban yang kebanyakan berasal dari Cina, dan pemerintah Cina, mempertanyakan kebenaran pernyataan-pernyataan otoritas Malaysia tentang musibah pesawat MH370. Pemerintah Cina bahkan menuntut Malaysia untuk menyerahkan data satelit tentang pesawat tersebut karena mencurigai Malaysia telah sengaja menyembunyikannya.

Keluarga korban MH370 adalah pihak yang paling kecewa dengan otoritas Malaysia. Berbagai aksi pun telah dilakukan mereka untuk mengekspresikan kekecewaan mereka kepada Malaysia.

Aksi terakhir yang digelar mereka adalah mengadakan konperensi pers di Hotel Holiday Villa, Subang Jaya, Minggu (30/3), yang isinya mengecam otoritas Malaysia. Dengan memakai baju seragam putih bertuliskan ‘Pray for MH370‘, mereka pun membentangkan spanduk bertuliskan “Kami ingin bukti, kami ingin kebenaran, kami butuh dihargai” dan “Bicaralah yang benar dan kembalikan keluarga kami!”. Di antara tuntutan mereka adalah permintaan ma’af pemerintah Malaysia atas musibah yang terjadi dan penyelidikannya yang membingungkan.

“Jadi, meski kita merasa dunia telah terhubung secara konstan dengan internet, media sosial, atau GPS, hanya dibutuhkan satu tombol yang mematikan semua sistem dan membuat pesawat dengan 239 penumpangnya menghilang tanpa jejak.” Tulis Anna Mikhailova lagi dalam artikelnya.

Mungkin yang paling harus dicari saat ini adalah: siapakah yang telah mematikan semua sistem navigasi pesawat MH370 dan sistem pertahanan udara beberapa negara sekaligus, yakni Malaysia, Indonesia, dan Vietnam, dan kemudian apa motif dari tindakan itu.(ca/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL