malaysia-airlines-mh370LiputanIslam.com — Mantan Wakil PM Malaysia Anwar Ibrahim mengeluarkan pendapat yang sama dengan analisa pada tulisan pertama artikel ini, yaitu bahwa radar canggih Malaysia, Marconi, pasti telah mengetahui dalam hitungan detik, pesawat MH370 berubah arah dan terbang melintasi 4 provinsi Malaysia secara ilegal. Dalam kasus ini, militer Malaysia mestinya telah melakukan tindakan terhadap pesawat tersebut.

“Bukan hanya tak dapat diterima, tapi tidak mungkin. Tidak fisibel jika pesawat tidak terlihat oleh sistem radar Marconi segera setelah berubah arah,” kata Anwar dalam wawancara dengan media Inggris The Telegraph, Jumat (4/4).

“Kami tidak memiliki kecanggihan seperti Amerika Serikat atau Inggris, tapi kami punya kapasitas untuk melindungi batas negara,” tambahnya.

Namun berbeda dengan Anwar Ibrahim yang menuduh pemerintah Malaysia terlibat dalam musibah tersebut dengan menyembunyikan informasi tentang pesawat MH370, LiputanIslam melihatnya dari sisi lain, yaitu Amerika dan negara klien regionalnya Australia.

Sebagaimana Menhan merangkap Menteri Transportasi Malaysia, Datuk Seri Hishammuddin Hussein yang mengatakan, “Kami telah melakukan hal yang benar, bertanggungjawab, dan sejarah akan mencatatnya.”

Malaysia, dalam konstelasi “perang siber” saat ini memang, tidak memiliki kekuatan dibandingkan super-power di bidangnya. Itulah sebabnya radar Marconi miliknya tidak mampu mendeteksi perubahan jalur pesawat MH370 hingga melintasi 4 provinsi di Semenanjung Malaka dan berakhir di Samudra Hindia.

Namun tidak bagi perusahaan pembuat mesin pesawat Rolls Royce yang berbasis di Inggris. Justru perusahaan inilah yang pada tanggal 13 Maret, pertama kali mengumuman bahwa pesawat MH370 tetap terbang selama lebih dari 5 jam setelah dinyatakan hilang kontak dengan otoritas penerbangan Malaysia. Tidak lain karena Rolls Royce telah menanamkan chip di dalam semua mesin buatannya yang secara “real time” menginformasikan keberadaan mesin-mesin tersebut ke perusahaan pembuatnya.

Tidak hanya memberitahukan apakah mesin-mesin tersebut dalam kondisi hidup atau mati, namun juga hal-hal lebih detil lagi, seperti apakah ada kebocoran atau kondisi-kondisi yang membahayakan dalam mesin-mesin tersebut. Dalam kondisi mesin yang tengah terbang dalam kondisi membahayakan, Rolls Royce akan menginformasikan kepada meskapai penerbangan yang bersangkutan.

Dengan kemampuan itu dipastikan Rolls Royce juga mengetahui posisi koordinat mesin-mesin tersebut, karena tiap informasi yang diberikan menggunakan media gelombang elektromagnetik yang ditangkap oleh satelit di angkasa yang dengan tepat akan memetakan lokasi asal gelombang tersebut dipancarkan.

Kalau Rolls Royce saja bisa memiliki kemampuan seperti itu, kemampuan yang jauh lebih besar tentu dimiliki Amerika, negara pembuat pesawat Boeing 777 yang digunakan oleh Malaysia Airlines bagi nomor penerbangan MH370. Amerika adalah negara yang mengoperasikan satelit terbanyak di angkasa, yang tidak saja bisa melakukan kegiatan pengamatan, namun juga melancarkan “perang siber” dengan mengacaukan sistem radar musuh. Dan kalau Rolls Royce bisa memantau mesin-mesinnya yang digunakanpesawat-pesawat terbang di segala penjuru dunia, Boeing tentu juga bisa melakukan hal yang sama terhadap semua pesawat-pesawat buatannya.

Bagaimana dengan kemampuan mengendalikan pesawat dari jarak jauh dengan terlebih dahulu memblokir sistem kendali manual yang dimiliki pilot? Ini juga sudah dipraktikan Amerika ketika drone-drone buatannya melakukan misi mata-mata atau penyerangan di Afghanistan, Pakistan atau Yaman, dengan pilotnya berada di pusat pengengalian di Florida, Amerika.

Hugo Teso, seorang hacker, dalam sebuah acara konperensi “Hack in the Box” pada bulan April 2013, mendemonstrasikan kemampuannya mengendalikan kecepatan, ketinggian dan arah pesawat terbang dengan menggunakan signal radio ke sistem manajemen penerbangan pesawat tersebut. Ia bahkan berhasil mengembangkan aplikasi android sendiri yang diberi nama “PlaneSploit” yang diklaimnya bisa digunakan untuk “membajak” pesawat terbang di angkasa.

Bahkan Iran pun telah membuktikan kemampuan itu dengan merebut kendali drone canggih Amerika MQ 170 Sentinel di udara, dan menurunkannya secara utuh di pangkalan udara milik Iran.

Keberadaan terakhir pesawat MH370 di tengah Samudra Hindia juga semakin menunjukkan peran Amerika. Di tengah Samudra Hindia pula terdapat pangkalan militer terbesar Amerika di luar negerinya, Diego Garcia. Radar-radar di pangkalan ini, dengan dukungan satelit, dan statius radar pendukung di Perth Australia, mampu meng-cover wilayah udara Asia Selatan, Timur Tengah hingga Asia Tenggara.

Mengapa Amerika diam, ketika sebuah pesawat jet jumbo mengarah ke pangkalan militernya yang paling strategis, kalau bukan Amerika sendiri yang mengendalikannya?

Lalu, kalau harus Amerika sebagai pelakunya, apa alasan Amerika melakukan hal itu? Tentu saja bukan karena alasan “mencegah peralatan militer canggihnya yang diselundupkan Taliban jatuh ke tangan Cina”, karena kalau motifnya ini, Amerika cukup meminta pemerintah Malaysia membatalkan penerbangan dan menggeledah pesawat itu sebelum terbang. Negara-negara Eropa bisa memaksa pesawat kepresidenan Ekuador atau Bolivia untuk mendarat, mengapa Amerika tidak bisa memaksa pesawat MH370 untuk digeledah?

Lalu apa motif di balik “pembajakan” pesawat MH370 oleh Amerika?

Setidaknya dengan peristiwa ini Cina harus kehilangan salah satu mintra strategisnya, Malaysia. Sebagaimana diketahui setelah hilangnya pesawat MH370, hubungan kedua negara memanas setelah Cina menuduh Malaysia menyembunyikan informasi tentang pesawat tersebut. Di sisi lain, Malaysia justru semakin rapat dengan Amerika dan sekutu regionalnya, Australia. Malaysia yang merasa tidak berdaya, mau tidak mau harus menerima “kebaikan” Amerika dan Australia dalam upayanya mencari pesawat MH370. Sebaliknya dengan Cina yang kehilangan 160 warganya tanpa bisa berbuat apapun, ini merupakan bentuk serangan psikologis (psylogical warfare) yang secara telak dilancarkan Amerika.(ca/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*