serangan pisauBeijing, LiputanIslam.com — Setidaknya 9 orang terluka akibat serangan pisau yang dilakukan oleh 2 orang di stasiun KA Guangzhou, Cina Selatan, Jumat (6/3). Sementara di Taiwan seorang pelaku serangan pisau yang menewaskan beberapa orang di dalam kereta api bulan Mei tahun lalu, dijatuhi hukuman mati.

BBC News melaporkan, polisi berhasil menembak mati seorang pelaku serangan itu dan menangkap lainnya. Namun belum diketahui motif dari serangan itu dan polisi masih memintai keterangan pelaku yang tertangkap.

Serangan di stasiun kereta api telah terjadi beberapa kali di Cina dalam beberapa bulan terakhir. Setidaknya 2 serangan terjadi di stasiun KA di Kunming dan Urumqi. Polisi menuduh pelakunya berasal dari kelompok separatis Uighur. Namun beberapa serangan serupa juga terjadi di sekolah-sekolah dan pelakunya adalah orang-orang yang mengalami masalah mental.

Serangan ini terjadi sehari setelah Cina memulai parlemen Cina kembali bekerja di Beijing. Parlemen Cina, National People’s Congress menjadi kegiatan dimana partai penguasai komunis Cina menetapkan agenda-agenda tahun baru dalam penanggalan Cina.

Xinhua melaporkan bahwa 5 korban dan pelaku serangan yang tertangkap berada dalam kondisi stabil, sementara 4 korban lainnya harus menjalani perawatan darurat.

Pengadilan Kasus Serangan Pisau di Taiwan

Sementara itu pengadilan Taipei, Taiwan, hari Jumat (6/3),  menjatuhkan hukuman mati kepada pelaku serangan pisau yang menewaskan 4 orang di dalam kereta api bawah tanah Taipei yang tengah melaju bulan Mei 2014 lalu.

Cheng Chieh menggunakan pisau pemotong buah untuk menyerang para penumpang kereta api bawah tanah, menewaskan 4 orang dan melukai 22 orang lainnya, sebelum polisi dan penumpang lainnya menangkapnya beramai-ramai.

Pemuda berumur 21 tahun itu dinyatakan bersalah atas pembunuhan dan percobaan pembunuhan. Serangan itu mengguncangkan Taiwan dimana aksi kejahatan jalanan relatif jarang terjadi di tengah kontrol aparat keamanan yang ketat.

Dalam pembacaan vonis tersebut, hakim menyebutkan bahwa Cheng yang ‘brutal’ tidak pernah menunjukkan penyesalannya.

Hakim sepakat dengan jaksa bahwa terdakwa mengidap obsesi untuk membunuh sejak kecil, dan menolak untuk menyerahkannya ke pusat rehabilitasi mental.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*