human_trafficking1Kuala Lumpur, LiputanIslam.com — Delapan remaja perempuan (ABG) yang menjadi korban perdagangan manusia di Malaysia diterbangkan ke Jakarta untuk memberikan laporan kepada polisi di Polda Metro Jaya.

“Kami langsung ke Polda Metro untuk membuat BAP (berita acara pemeriksaan),” kata Wakil Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, Hermono, kepada media sesaat sebelum berangkat ke Jakarta, Rabu (23/4). Setelah menjalani pemeriksaan di Polda Metro, ujar Hermono, delapan remaja itu akan dibawa ke Kementerian Sosial untuk mendapatkan rehabilitasi.

Sindikat perdagangan manusia memperkerjakan delapan remaja berusia 14-17 tahun itu sebagai pekerja seks komersial di beberapa lokasi spa dan karaoke di Malaysia. Mereka berhasil melarikan diri ke Kedutaan Besar Indonesia di Kuala Lumpur. Dari pengakuan mereka, kata Hermono, ada sekitar 60 remaja perempuan asal Indonesia lain yang terperangkap sindikat yang diotaki perempuan asal Jawa Barat bernama Ina itu.

Para korban sindikat Ina sebagian besar berasal dari Sukabumi, Jawa Barat.

“Ina sendiri orang Bogor, sedangkan korbannya ternyata tidak jauh-jauh dari Sukabumi. Ada yang dari Bojonggede, Cibinong, Depok, dan ada juga yang dari Jakarta,” kata Hermono.

Para korban yang semula dijanjikan akan dipekerjakan di salon dan spa dipaksa melayani pria hidung belang di beberapa tempat karaoke dan spa yang tersebar di Selangor hingga Genting Highland. Setiap melayani tamu, Ina mematok harga minimal 180 ringgit (Rp 600 ribu), namun hanya memberi pekerjanya uang saku 50 ringgit sehari.

Hermono menjelaskan, Kedutaan Indonesia bekerja sama dengan pihak berwenang Malaysia untuk mencari Ina dan 60 remaja yang masih terperangkap dalam sindikat pelacuran. “Kami menyuplai data dan informasi sebanyak-banyaknya kepada divisi anti-trafficking Polis Diraja Malaysia,” ujarnya.

Ia berharap 60 remaja putri itu dapat segera diselamatkan dan Ina juga segera ditangkap. Hermono menduga kuat perempuan pemimpin jaringan perdagangan manusia ini masih bersembunyi di Malaysia.

“Saya yakin Ina masih di Malaysia karena kita juga bekerja sama dengan pihak imigrasi untuk mencekalnya.”(ca/tempo.co)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL