Washington, LiputanIslam.com—Tujuh negara Muslim yang dilarang oleh Presiden Donald Trump masuk ke AS bukanlah pendukung terorisme, dan sebaliknya adalah korban dari terorisme AS. Demikian kata aktivis anti-perang dan analis politik Amerika, Brian Becker, dalam wawancara dengan Press TV, Selasa (21/02/17).

Menurut informasi dari Associated Press, kebijakan imigrasi Trump yang baru direvisi masih memasukkan tujuh negara yang sama, yaitu Iran, Irak, Libya, Somalia, Sudan, Suriah, dan Yaman. Penduduk dari negara-negara tersebut dilarang memasuki Amerika Serikat.

Becker mengatakan, fakta bahwa Trump “memilih tujuh negara dengan penduduk bermayoritas Muslim adalah upaya untuk menyembunyikan niatan inkonstitusional dan ilegal yaitu untuk melarang orang-orang masuk AS berdasarkan agama.”

“Dengan memilih 7 negara tersebut, Trump mengadopsi resolusi Kongres AS yang ditandatangani oleh mantan Presiden Barack Obama yang mengidentifikasi ketujuh negara ini sebagai sarang terorisme melawan AS atau negara lainnya,” ujar Becker.

“Jadi, dalam kata lain Trump mencoba berpura-pura atau mengkamuflasekan larangannya terhadap Muslim dengan berdalih bahwa itu bukan larangan terhadap agama tertentu atau orang-orang pemeluk agama tertentu, melainkan sebuah upaya untuk melindungi Amerika dari terorisme,” imbuhnya.

Becker menambahkan, fakta dari isu ini adalah bahwa “ketujuh negara ini bukan sumber terorisme… Iran, contohnya, tidak pernah melakukan aksi terorisme melawan Amerika Serikat.”

“Berbicara tentang Irak, penduduk dan negara Irak telah menjadi korban terorisme yang dibuat oleh AS, bukan sebaliknya.” jelas Becker. “AS menginvasi Irak. Irak tidak menginvasi AS. AS memborbardir Irak. Irak tidak mengebom AS.” (ra/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL