Sumber: lipi.go.id

Bogor, LiputanIslam.com— Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria menyebutkan mayoritas petani Indonesia masih berpendidikan rendah. Hal ini yang menjadi tantangan sekaligus kendala untuk mengembangkan teknologi pertanian di era industri 4.0.

Untuk mengatasi hal tersebut, kata Arif, IPB bersama Badan penelitian dan pengembangan pertanian (Balitbangtan) harus menyediakan sociopreneur dan farm manager sebagai pendamping dalam menggunakan teknologi baru yang akan dikeluarkan.

“Karena para petani tidak mungkin dipaksa untuk menggunakan teknologi itu sendirian,” ujarnya, Selasa (28/5).

Baca: Kementan Dorong Kaum Milenian Masuk Sektor Pertanian 

Arif menyampaikan, pihaknya akan menawarkan sociopreneur dan farm manager tersebut sebagai pendamping untuk memfasilitasi kebutuhan bagi para petani.

Dia menilai, untuk membuat penyebaran pertanian era industri 4.0 menyebar secara merata, perlu adanya transformasi dalam bentuk mindset dan teknologi.

“Teknologi itu tidak harus dimiliki pribadi oleh petani, kan bisa difasilitasi oleh farm manager tadi. Dan sociopreneur itu menurut kita sebagai penyuluh bagi para petani,” ungkapnya.

Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Mayling Oey Gardiner menambahkan, petani Indonesia harus lebih berpendidikan dan berketerampilan, serta perlu penelitian dengan dana yang disokong oleh pemerintah.

Dia menuturkan, pada 1971, hampir 98 persen pekerja pertanian di Indonesia hanya berpendidikan dasar. Pada 2018, masih ada 68 persen yang masih dalam tingkat pendidikan yang serupa. (sh/antaranews/republika)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*