tahanan guantanamoMontevideo, LiputanIslam.com — Enam tahanan Guantanamo telah dipindahkan ke Uruguay dan tiba sebagai manusia bebas di ibukota negara itu, Montevideo, Minggu (7/12). Demikian BBC melansir, Senin (8/12).

Ini menyusul pernyataan pemerintah Uruguay beberapa waktu lalu yang menyebutkan bahwa Uruguay siap untuk menerima para tawanan itu – empat dari Suriah, satu dari Palestina dan satu dari Palestina, sebagai bentuk sikap kemanusiaan.

Keenam orang itu ditahan sejak 12 tahun lalu karena dugaan keterkaitan dengan kelompok Al Qaida, meski mereka tidak pernah diadili sama sekali. Presiden Jose Mujica menyebut mereka sebagai “korban penculikan yang kejam”.

Seorang pengacara dari Abu Wa’el Dhiab (43 tahun), satu di antara mantan tahanan itu, mengatakan kliennya merasa gembira bahwa Uruguay bersedia menampung dan membebaskan mereka.

“Ia menganggap bahta ini (Uruguay) adalah rumahnya,” kata Cori Crider, pengacara dari kelompok pembela HAM “Reprieve” kepada Associated Press.

“Pada saat ini tujuan utamanya adalah sekedar menjadi lebih baik, dan juga tentu saja ia ingin berjumpa dengan istri dan anak-anaknya,” tambahnya.

Sebelum dibebaskan Dhiab telah menjalani mogok makan memprotes penahanannya di Guantanamo yang tidak adil.

Sementara itu pemerintah Uruguay, setelah kedatangan ke-6 orang itu mengatakan bahwa mereka telah dibawa ke rumah sakit militer untuk menjalani pemeriksaan medis.

Di sisi lain, pemerintah AS menyambut baik prakarsa pemerintah Uruguay untuk menampung mantan tahanan itu sebagai bagian dari program AS untuk menutup fasilitas tahanan militer yang terletak di Cuba itu.

“AS berterima kasih kepada pemerintah Uruguay atas kesediaannya untuk mendukung usaha-usaha AS untuk menutup Pusat Penahanan Guantanamo Bay,” kata Kemenhan AS dalam pernyataan yang dikeluarkan.

Presiden Barack Obama semasa kampanye tahun 2008 telah berjanji untuk menutup pangkalan tersebut sebagai tampat penahahan militer.

Saat ini sekitar separoh dari 136 orang tahanan yang masih berada di sana telah dinyatakan siap untuk dibebaskan, namun masih harus menunggu negara yang bersedia menampung mereka. Sementara negara asal mereka masih dalam kondisi kacau.

Presiden Uruguay Mujica sendiri adalah mantan tahanan militer selama berkuasanya regim militer di Uruguay tahun 1970-an hingga 1980-an. Namun keputusannya menampung para mantan tahanan “terorisme” itu kurang mendapat dukungan warganya. Dalam sebuah jajak pendapat yang digelar bulan Oktober lalu memperlihatkan 58% warga Uruguay menentang keputusan tersebut.

Mujica yang kini telah pensiun, mengambil keputusan untuk menerima para tahanan itu pada bulan Maret lalu. Namun pelaksanaannya tertunda karena adanya pemilu bulan November lalu yang dimenangkan kandidat yang didukungnya.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL