King Salman bin Abdul-Aziz Al SaudLiputanIslam.com — Dengan raja baru yang duduk di atas takhta, dan wajah-wajah baru yang diperkenalkan dalam kabinet Arab Saudi, muncul kegelisahan terkait perkembangan arus politik. Bagaimana menerjemahkan perubahan di dalam struktural pemerintahan Arab Saudi dan dampaknya terhadap kawasan regional?

Menimbang pentingnya peran dan geo-strategis Kerajaan Arab Saudi, bisa dimengerti bahwasanya sekutu regional dan internasional berharap, transisi ini terjadi secara halus dan berujung pada kontinuitas kebijakan. Kendati ada jaminan bahwa Raja Salman berkehendak untuk tetap melanjutkan kebijakan pendahulunya, namun perombakan kabinet baru-baru ini telah ditafsirkan sebagai corak kebijakan yang akan diambil oleh Arab Saudi dalam konteks regional.

Salman bin Abdulaziz naik takhta di tengah gejolak Timur Tengah, saat berbagai wilayah mengalami perubahan dalam waktu yang bersamaan, perspektif kuno mulai ditentang, dan rezim lama dijatuhkan. Tentunya, di atas semua gejolak ini, tangan Arab Saudi turut memainkan peran.

Sebagian sekutu Arab Saudi, termasuk Amerika Serikat (AS), telah berbusa-busa untuk menyampaikan bahwa Raja Arab Saudi yang baru adalah sosok pembaharu. AS berusaha meyakinkan dunia bahwa Raja Salman akan bersikap moderat, dan perlahan, akan membawa kerajaan lebih terbuka terhadap dunia. Seolah-olah, publik tidak perlu melihat bagaimana langkah yang diambil oleh Salman, untuk memahami apakah Raja Saudi itu moderat atau tidak.

Apakah Salman Seorang yang Moderat?

Selaku Raja, Salman telah menunjuk seorang ulama Wahabi garis keras, Saleh bin Abdulaziz al-Shaikh sebagai Menteri Urusan Agama. Ia juga mengangkat ulama kontrovesial Saad al-Shethri sebagai penasehat pribadinya. Hal diatas menunjukkan bahwa Salman ingin memperkuat hubungan antara House of Saud dengan ulama-ulama Wahabi. Salman bahkan telah bekerja dengan ulama fanatik seperti Aidh Abdullah al-Qarni dan Saleh al-Maghamsi, pendukung setia dan pembimbing spiritual Taliban untuk mendidik anak-anaknya.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa Salman bertanggung jawab untuk menyiapkan organisasi dan wadah untuk terus menyalurkan jutaan petrodolar guna mendukung pasukan takfiri yang menjadi perpanjangan tangan rezim untuk mempertahankan dan meluaskan pengaruhnya.

Melalui Salman, ribuan pemuda radikal telah didoktrin dengan ideologi Wahabi Takfiri di berbagai belahan dunia, sehingga muncullah sebuah kekuatan boneka yang mengerjakan proyek House of Saud. Negara-negara seperti Yaman, Pakistan, Libya, Afghanistan dan Suriah harus terus bergulat dengan milisi Takfiri, dan situasi ini memastikan bahwa ideologi Wahhabi Arab Saudi terus mendominasi, menyaingi, dan memperbesar pengaruhnya terhadap negara lain di kawasan regional. Di sisi lain, situasi ini akan mengokohkan kekuasaan rezim Saudi.

Hal ini menarik untuk dicatat, bahwa hubungan baik Salman dengan ulama Wahabi radikal dan ketergantungannya kepada kekuatan proxy akan menentukan lebih lanjut terkait peran Saudi di suriah. Salman, yang sebelumnya menjabat sebagai Menteri Pertahanan, telah membawa Arab Saudi bergabung dengan koalisi anti-ISIS yang dipimpin AS, dan membiarkan wilayahnya digunakan sebagai tempat pelatihan militan untuk memerangi Assad. Sehingga tidak diragukan lagi bahwa penunjukan puteranya, Mohammad, sebagai menteri pertahanan yang baru, merupakan sebuah indikasi  atas peristiwa yang akan terjadi di kemudian hari.

Melihat Arab Saudi lebih jauh, jelas bahwa hubungan raja baru dengan ulama garis keras Wahabi berarti bahwa kerajaan itu akan terus bergantung pada fatwa menyimpang mereka untuk mengekang kebebasan warga negaranya sendiri. Penunjukan keponakannya, Mohammad bin Nayef, sebagai wakil putra mahkota lebih lanjut mengkonsolidasikan pandangan bahwa segala bentuk perbedaan pendapat di kalangan internal akan dihadapi dengan tangan besi. Tampaknya, Salman lebih tertarik melakukan penaklukan ketimbang reformasi.

Pangeran Mohammad bin Nayef dan mendiang ayahnya, Pangeran Nayef bin Abdulaziz, dinilai sebagai pihak bertanggung jawab atas kebrutalan yang ditujukan kepada rakyat yang pro-demokrasi, di provinsi Timur yang kaya minyak. Wilayah ini dihuni oleh mayoritas Muslim Syiah. Mereka terinspirasi dari Bahrain yang telah tengah berjuang untuk melawan penguasa diktator. Akibat melakukan protes, rakyat Saudi yang terpinggirkan ini mengalami penindasan yang berkelanjutan.

Arab Saudi mengirim pasukannya ke Bahrain untuk membantu meredam pemberontakan rakyat yang dimulai pada awal tahun 2011. Langkah ini, akhirnya menjadi semacam ikatan antara rakyat Saudi di Provinsi Timur dengan rakyat Bahrain, karena keduanya memiliki persamaan. Mereka ditekan dan suara mereka dibungkam oleh penguasa lalim yang sama. Maka, penunjukan Mohammad bin Nayef sebagai wakil putera mahkota adalah pesan untuk mereka, bahwa rezim sekarang akan tetap dipertahankan dengan segala cara – dan untuk itu, keberadaan oposisi tidak akan ditoleransi. Tampaknya, pasukan Saudi di Bahrain tidak akan angkat kaki dalam waktu dekat.

Kembalinya Klan Sudairi

Pada umumnya, para pengamat telah menilai bahwa Salman, berusaha untuk mengkonsolidasikan klan Sudairi ke dalam struktur kekuasaan. Mendiang Raja Abdulaziz memiliki tujuh orang anak dari istrinya Hassa binti Ahmad al-Sudairi. Mereka, membentuk aliansi yang kuat untuk mendominasi panggung politik kerajaan, meskipun, selama kepemimpinan Raja Abdullah, pengaruh dan kekuasaan klan Sudairi jauh melemah. Namun kini, penempatan Pangeran Mohammad bin Nayef sebagai wakil putera mahkota, dan memberikan posisi kunci di pemerintahan kepada anak-anaknya, menunjukkan bahwa Raja Salman memfasilitasi klan Sudairi untuk kembali berkuasa.

Jika menimbang bahwa faktor keturunan telah memainkan peranan penting dalam politik internal House of Saud, dapat disimpulkan bahwa kepentingan dan tujuan yang beragam akan terus bersaing untuk memperebutkan pengaruh dan dominasi. Dengan menempatkan klan Sudairi di posisi kunci seperti wakil putera mahkota, Menteri Pertahanan, Wakil Menteri Perminyakan, dan Kepala Istana, maka Raja Salman telah mengamankan klan ini untuk terus berkuasa di tahun-tahun yang akan datang. Imbasnya, ketegangan untuk memperebutkan kekuasaan antara anak-cucu Raja Abdulaziz di internal House of Saud akan semakin meningkat.

Memang, melalui komitmen terbarunya, Raja Salman telah membuat banyak langkah yang dikhawatirkan akan membawa generasi muda ke dalam garis depan politik dan pemerintahan Saudi. Kondisi Salman bersaudara yang sulit untuk memiliki pewaris, maka sangat penting baginya untuk membawa generasi muda ke dalam pemerintahan. Proses pemilihannya sangat mudah, karena ia hanya perlu memilih dari garis keturunan dari calon-calon potensial yang tersedia.

Apakah ini semua berarti bahwa kontinuitas kepemimpinan al-Saud atas kerajaan telah berjalan sukses? Mampukah generasi baru dari House of Saud, terutama dari klan Sudairi, untuk tetap mengamankan kepentingan kerajaan dan regional? Dan bisakah kekuatan difokuskan kepada satu klan, dengan mengabaikan kekuatan oposisi dari klan lainnya? Semuanya akan terjawab seiring waktu, dan saat ini, kita hanya bisa menyaksikan. (ba)

—-

Tulisan ini diterjemahkan dari artikel Kaneez Fatima di Press TV yang berjudul King Salman New Monarch New Times

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL