Ankara, LiputanIslam.com–Pengawas internasional dari Council of Europe dan anggota parlemen Austria, Alev Korun mengatakan, ada dugaan bahwa 2,5 juta suara rakyat Turki telah dimanipulasi untuk mengubah hasil referendum.

Berbicara di radio ORF, Korun mengatakan badan pemilu Turki menganggap valid sekitar 2,5 juta surat suara dan amplop yang tidak dicap.

“Sebenarnya, aturan pemilu hanya membolehkan menghitung surat suara yang resmi. Namun, badan pemilu memutuskan untuk menerima surat tanpa cap resmi meski itu melanggar aturan.” kata Korun.

Korun bukanlah yang pertama kali mengkritisi hal ini. The Organization for Security and Co-operation in Europe (OSCE) juga mengecam keputusan tersebut yang dinilai telah “mengubah kriteria validitas suara secara signifikan.”

Pada Senin lalu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan merespon kritik OSCE. Ia mengatakan bahwa dia “tidak mengakui” laporan mereka, dan bahwa para peneliti tersebut harus “tahu diri.””

Sementara kemarin, Perdana Menteri Turki Binali Yildirim meminta partai oposisi yang menolak hasil referendum agar menghormati hasil yang sudah keluar.

“Keinginan rakyat tercermin dari hasil voting, dan debat sudah berakhir,” kata Yildirim, seperti dikutip dari Reuters. “Semua harus menghormati hasilnya, terutama pihak oposisi.”

Beberapa waktu lalu, Erdogan merayakan kemenangannya dalam referendum mengenai perluasan kewenangannya. Kampanye ‘Yes’ Erdogan mendapat sekitar 51 persen suara. Sementara ‘No’ kalah dengan angka tipis.

Setelah pengumuman suara keluar, ribuan demonstran turun ke jalanan Istanbul untuk memperotes hasil suara. Mereka membawa spanduk bertuliskan “’No, kami menang” dan “’No menang.” Belasan demonstran dilaporkan ditangkap oleh polisi Turki. (ra/rt)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL