Libyan-militiaTripoli, liputanislam.com — Selama konflik sektarian yang telah berjalan selama 2 minggu di Libya, sebanyak 154 orang dinyatakan tewas dan 463 lainnya luka-luka. Demikian keterangan kementrian kesehatan Libya, Sabtu (25/1).

Kementrian kesehatan Libya menyebutkan korban-korban tersebut berasal dari wilayah konflik di Sebha dan Wershefana. Sebha adalah kota besar di Selatan Libya sedangkan Wershefana berada di sebelah barat ibukota Tripoli. Sebelumnya pada hari Sabtu, Abdallah Ouheida, pejabat direktur rumah sakit di Sebha mengumumkan bahwa kerusuhan etnis yang terjadi di kota tersebut telah menewaskan 88 orang dan melukai 130 lainnya.

“Antara pecahnya pertempuran pada tgl 11 Januari hingga Jumat (23/1), angka kematian mencapai 88 orang,” kata Ouheida kepada wartawan.

Menurut keterangannya, angka kematian yang sebenarnya bisa lebih besar lagi karena sebagian korban dibawa ke rumah sakit lain.

Paska tumbangnya pemerintahan Moammar Khadaffi, libya kini dilanda kekacauan karena tidak adanya pemerintahan yang solid. Di sisi lain, para pemberontak yang melawan regim Khadaffi menolak meletakkan senjata mereka dan memilih membentuk milisi bersenjata sendiri untuk menjaga kepentingan kelompoknya sendiri. Akibatnya sering terjadi aksi-aksi kekerasan bersenjata, bahkan karena masalah yang sangat sepele sekalipun.

Dalam sebuah wawancara dengan Press TV beberapa waktu lalu pengamat politik Johnny Miller menyebut Libya sebagai “negara gagal”.

“Libya hampir menjadi negara gagal. Saya maksud, suatu kondisi dimana pemerintah sangat-sangat lemah dan jalanan dikuasi oleh milisi-milisi bersenjata, bergabung dengan pemerintah namun juga bertindak atas kepentingan sendiri,” kata Miller.(CA/press tv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL