khmer merahPhnom Penh, LiputanIslam.com — 2 pemimpin rezim Khmer Merah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup setelah dinyatakan terbukti terlibat dalam pembunuhan massal warga Kamboja pada tahun 1970-an.

Dalam sidang pengadilan Kamboja yang didukung PBB, Kamis (7/8), 2 tokoh Khmer Merah Nuon Chea (88 tahun) dan Khieu Samphan (83) dinyatakan terbukti melakukan tindakan kejahatan kemanusiaan. Dalam rezim Khmer Merah Nuon Chea adalah wakil pemimpin tertinggi Pol Pot, sedangkan Khieu Samphan menjabat sebagai Presiden.

Ini adalah satu-satunya pengadilan yang berhasil mengadili para pemimpin rezim Khmer Merah setelah Pol Pot gagal diadili karena keburu meninggal dunia, sementara para pemimpin lainnya gagal diadili karena dianggap tidak layak lagi mengikuti persidangan karena usia dan kesehatannya yang tidak memungkinkan.

Son Arun, pengacara yang membela Nuon Chea menyatakan banding atas vonis tersebut dan menyebutnya sebagai “tidak adil” karena kliennya mengaku tidak mengetahui sebagian besar dari pembunuhan-pembunuhan itu.

Selama berkuasa antara tahun 1975-79 di Kamboja, rezim Khmer Merah yang didukung Cina ini telah membantai sekitar 2 juta warganya sendiri yang dianggap sebagai musuh negara hanya karena perbedaan pandangan politik.

Sebagaimana dilaporkan BBC, Hakim Nil Nonn yang memimpin sidang pengadilan perkara tersebut menyebutkan keduanya terbukti telah melakukan berbagai praktik pelanggaran kemanusiaan berat mencakup pembunuhan, penindasan politik, pengusiran, penculikan dan penghilangan paksa, serta serangan terhadap kemanusiaan.

Kelompok-kelompok masyarakat yang menjadi sasaran utama pembunuhan Khmer Merah di antaranya adalah kaum agamawan, intelektual, birokrat, profesional serta pemuka kelompok-kelompok minoritas beserta keluarganya.

Keputusan hakim tersebut mendapat dukungan para keluarga korban kekejaman Khmer Merah. Beberapa orang yang hadir di dalam ruang sidang saling berpelukan dan menangis gembira setelah vonis tersebut dibacakan.

Selama persidangan yang berlangsung selama 3 tahun, hakim telah mendengarkan berbagai kesaksian keluarga korban kejahatan Khmer Merah.

“Saya masih menyimpan kemarahan di dalam hati. Saya masih ingat hari dimana saya berjalan kaki meninggalkan kota Phnom Penh, tanpa makanan dan minuman sedikitpun,” kata Suon Mom (75 tahun) yang suami dan 4 anaknya meninggal karena kelaparan, kepada Associated Press.

Sebaliknya, keluarga kedua terpidana tersebut tidak menghadiri persidangan.

Nou Saota, salah satu korban yang selamat dari Khmer Merah, di luar pengadilan mengatakan, “Saya sangat bahagia dan lega. Beban berat telah terlepas dari saya.”

Sementara Youk Chang, korban Khmer Merah lainnya yang selamat mengatakan bahwa vonis tersebut “agak terlambat, namun sangat berarti.”

Kelomopok Amnesty International menyebut sidang ini merupakan “langkah penting menuju  keadilan” seraya mengakui adanya berbagai hambatan yang dihadapi selama persidangan.

Pada tahun 2012 seorang hakim asal Swiss yang ditunjuk dalam persidangan ini mengundurkan diri karena kecewa bahwa “beberapa tersangka lain telah dilindungi”.

Dua pemimpin Khmer Merah lain sebenarnya disidangkan dalam perkara yang sama, Ieng Sari dan istrinya Ieng Thirith, namun gagal menjalani hukuman. Sari meninggal bulan Maret 2013 sementara Thirith dinyatakan tidak cukup kuat untuk mengikuti persidangan.

Sebelumnya seorang kepala penjara regim Khmer Merah bernama Duch telah dijatuhi hukuman dalam persidangan lain tahun 2010. Ia menjalankan penjara Tuol Sleng, tempat dimana ribuan orang dinyatakan tewas karena kekejaman regim.

Kekejaman regim Khmer Merah semakin terkenal setelah dirilisnya film pemenang Oscar “The Killing Fields” pada tahun 1984.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL