stream_imgLondon, LiputanIslam.com — Dua bersaudara menjadi warga Inggris pertama yang dipenjara karena kegiatan terorisme di Suriah. Mohommod Nawaz, 30, mendapat hukuman empat setengah tahun, dan adiknya, Hamza Nawaz, 24, dijatuhi hukuman tiga tahun penjara. Demikian BBC melaporkan, Kamis (27/11).

Kedua terdakwa itu mengaku terlibat konspirasi untuk menghadiri kamp pelatihan terorisme pada tahun 2013. Sementara hakim yang mengadilinya menyebutkan bahwa “fokus” keduanya adalah rezim di Suriah dan bukan serangan di Inggris, dan tidak ada bukti bahwa keduanya mengambil bagian dalam pertempuran.

“Bukti yang diperoleh dari ponsel membuktikan bahwa Anda berdua telah datang ke kamp yang digunakan untuk pelatihan teroris di Suriah,” kata Hakim Christopher Moss QC.

“Bukti menunjukkan Anda berada di sana untuk jihad, dan ingin bergabung dengan kelompok ekstremis,” tambahnya.

Polisi federal Scotland Yard menggambarkan vonis pada dua orang itu merupakan “tonggak ” dan akan menjadi awal dari serangkaian kasus lain yang akan dibawa ke pengadilan.

Bulan Agustus lalu anggota keluarga Nawaz menghubungi polisi untuk melaporkan hilangnya saudara mereka. Kedua orang itu dilaporkan awalnya mengaku keluar untuk makan, namun ternyata bertolak ke Prancis dengan mobil milik Hamza.

Seterusnya, dari Lyon, Prancis, mereka terbang ke Turki dan melintasi perbatasan untuk bergabung dengan kaum ekstremis di kamp pelatihan. Mereka kembali ke Inggris September, tetapi dicegat oleh petugas perbatasan yang menemukan sejumlah hal, antara lain video.

Dalam salah satu video, tampak mereka menyeberangi sungai di perbatasan Turki-Suriah untuk menghindari pemeriksaan petugas Turki.

Ketika ditanya siapa yang mereka dukung, mereka pun menjawab, “Junud al-Shaam”, nama sebuah kelompok ekstrem yang juga dikenal sebagai Prajurit Damaskus.

Kemudian keduanya ditanya: “Ke sini untuk jihad?” Salah satu dari mereka pun menjawab: “Jihad, yeah.”

Ketika mereka mencapai kamp pelatihan, mereka diidentifikasi seorang ahli pengintai RAF yang berlokasi dekat Latakia. Mereka pun mengambil berbagai gambar lain, termasuk jadwal harian mereka.

Foto menunjukkan bahwa kegiatan setiap harinya dimulai pada pukul 04.30 dengan shalat subuh, dan pelajaran agama, disusul dengan latihan fisik dari pukul 06.00 sampai 08.00 pagi.

Catatan yang ditulis dalam bahasa Inggris, menyebutkan bahwa “pelatihan militer” berlangsung dua kali sehari – dan akan ada pelajaran Islam lebih lanjut sebelum tidur, pada pukul 22.00.

Gambar lain dari kamp menunjukkan senapan di pinggir tempat tidur. Dalam satu gambar, Mohommod Nawaz terlihat mengenakan perlengkapan kamuflase dan menyandang senapan yang tampaknya AK-47 dengan penyimpan peluru.

Kedua kakak beradik itu merahasiakan rencana perjalanan dari keluarga mereka. Sebagian keluarga menyangka mereka berangkat ke Skotlandia untuk kegiatan amal. Namun Hamza Nawaz mengirim pesan melalui media sosial kepada saudaranya Hussain dan sejumlah teman lain, menegaskan niatnya.

“Kami sudah berangkat menuju Suriah,” katanya dalam sebuah pesan yang dikirim melalui Whatsapp. “Kami tahu semua orang akan marah tentang apa yang kami lakukan, ini adalah apa yang ingin kami lakukan.”

Kedua kakak beradik itu awalnya berencana untuk tinggal selama berbulan-bulan, dan telah menjelajahi internet untuk mendapat informasi tentang bagaimana bergabung para pejihad.

Tidak jelas mengapa mereka sudah kembali hanya setelah beberapa pekan. Namun polisi meyakini, mereka awalnya berniat untuk mengikuti sebuah kamp pelatihan yang lebih berat.

Di pengadilan terungkap Mohommod Nawaz pernah dihukum pada tahun 2009 untuk pidana pemerasan, penyekapan, penculikan, dan melukai orang.(ca/dtc)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL